Exxonmobil Lepas Aset di Indonesia? Ini Pendapat Lembaga Riset Energi

Wood Mackenzie, lembaga riset energi, mengidentifikasi lima aset Exxonmobil yang berpotensi dilepas di kawasan Asia Pasifik, salah satunya di Indonesia.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  16:33 WIB
Exxonmobil Lepas Aset di Indonesia? Ini Pendapat Lembaga Riset Energi
Kilang minyak di Lapangan Banyu Urip Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (8/12/2016). - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA — Wood Mackenzie, lembaga riset energi, mengidentifikasi lima aset Exxonmobil yang berpotensi dilepas di kawasan Asia Pasifik, salah satunya di Indonesia.

Direktur Riset Wood Mackenzie Andrew Harwood mengatakan Exxonmobil memiliki aset tua di Australia, Thailand, dan Malaysia. Selain itu, ada portofolio aset Exxonmobil di Asia Pasifik dengan margin rendah, seperti di Vietnam dan Indonesia.

"Divestasi aset akan menghasilkan portofolio yang lebih terfokus, margin lebih tinggi, dan berpusat di Papua Nugini dan proyek LNG Gorgon," tuturnya dalam keterangan resmi, Senin (7/10/2019).

Proyek Gorgon merupakan proyek yang dikelola bersama dengan komposisi kepemilikan Chevron 47,3%, Exxonmobil 25%, Shell 25%, Osaka Gas 1,25%, Tokyo Gas 1%, dan JERA 0,417%.

Sementara itu, proyek LNG Papua Nugini dengan total nilai pengembangan senilai US$19 miliar merupakan proyek terintegrasi yang mencakup proyek gas dan fasilitas. Ada lima identifikasi target pemrosesan yang membentang dari Hela hingga Port Moresby.

Adapun proyeksi divestasi aset teratas oleh Exxonmobil menurut Woodmac, yakni Bass Strait-Australia, Gas PSC dan EPMI 2018-Malaysia, Sinphuhorm dan Nam Phong-Thailand, Cai Voi Xanh-Vietnam, dan Cepu-Indonesia.

Harwood menambahkan potensi pertumbuhan bisnis dari Papua Nugini dengan arus kas jangka panjang ditambah dengan tingginya margin dari proyek Gorgon diproyeksi menjadi tulang punggung portofolio Exxonmobil di Asia Pasifik dalam periode dekade berikutnya.

"CAGR produksi Exxonmobil pada 2020-2030 akan meningkat dari -3% menjadi +3% jika portofolionya terkonsentrasi pada Gorgon dan Papua Nugini," tambahnya.

Terkait spekulasi Woodmac, pihak Exxonmobil Indonesia enggan berkomentar. Vice President Public and Government Affairs, ExxonMobil Indonesia Azi Alam mengatakan perusahaan tidak mengomentari hal yang berbau spekulasi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari situs resmi Exxonmobil, pada tahun lalu perusahaan migas asal Amerika Serikat ini telah menyelesaikan 19 transaksi divestasi, termasuk pelepasan 50% hak operasional di Blok WA-1-R di lepas pantai Australia.

Belum lama ini, Exxonmobil juga telah menandatangani perjanjian dengan Var Energi AS untuk penjualan aset hulu yang tidak dioperasikan di Norwegia senilai US$4,5 miliar, sebagai bagian dari rencana untuk melakukan divestasi sekitar US$15 miliar untuk aset yang dianggap tidak strategis pada 2021.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
exxonmobil, blok cepu

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top