Pemerintah Diminta Tuntaskan Akar Masalah Angkutan ODOL

Pemerintah dinilai masih perlu mencari akar permasalahan munculnya praktik overdimension overload (ODOL) secara lebih holistis guna menekan tingkat pelanggaran tersebut.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 04 Oktober 2019  |  11:52 WIB
Pemerintah Diminta Tuntaskan Akar Masalah Angkutan ODOL
Truk sarat muatan melintasi jalur lintas Sumatra Timur di Kayu Agung, Ogan Komering Ilir, Jumat (3/5/2019). - Bisnis/Tim Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019/Abdullah Azzam.

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah dinilai masih perlu mencari akar permasalahan munculnya praktik overdimension overload (ODOL) secara lebih holistis guna menekan tingkat pelanggaran tersebut.

Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motor Sales Santiko Wardoyo mengatakan bahwa kebanyakan konsumen sebenarnya tidak senang memaksakan kendaraan mereka untuk melebihi kapasitas dan dimensi.

“Mereka juga tidak begitu suka kalau mobilnya dipaksa, mereka lebih suka kondisi mobil yang tidak paksa aja gitu, karena umur mobilnya semakin lama, tingkat kerusakannya semakin lama, pasti lebih ini lah lebih tahan lama, itu kan cost juga buat mereka,” katanya kepada Bisnis, Kamis (3/10/2019).

Menurutnya, banyak pelaku usaha yang memaksakan dimensi dan kapasitas truk di luar aturan untuk menutup biaya operasional. Muatan yang lebih besar diharapkan akan menghasilkan pendapatan yang lebih besar bagi operator.

“Ini harus dari berbagai sudut, karena ini sudah lama, bukan hanya lima tahun ke belakang. Hal ini kan istilahnya karena persaingan, harganya banting-banting, dari produsen mungkin peru didekati oleh Pemerintah supaya bersedia menaikkan biaya jasa transportasinya,” katanya.

Dia mengatakan bahwa kecenderungan ini juga terjadi di luar kuasa para agen pemegang merek (APM). Dia menolak anggapan bahwa produsen sengaja menawarkan produk dengan kemampuan besar yang mungkin untuk memfasilitasi ODOL.

Menurutnya, kemampuan truk di Indonesia yang relatif lebih kuat dibandingkan di negara lain bukan ditujukan guna memenuhi keinginan konsumen untuk ODOL. Hal itu, katanya, disebabkan oleh kondisi geografi di dalam negeri.

“Demografi Indonesia kan begitu, jalannya naik turun, ada yang rusak ada yang bagus, ada yang bergelombang kan sekarang tidak semuanya jaln tol, kalau di luar pulau Jawa khususnya,” ujarnya.

Dia mengatakan langkah pemerintah untuk mendorong produsen mengeluarkan produk dengan kemampuan lebih rendah tidak akan banyak membantu mengurangi ODOL. Pasalnya, dengan kemampuan produk lebih rendah sekalipun, konsumen tetap dapat memodifikasi sesuai dengan kebutuhan mereka.

“Karena kadang mereka melakukam mofifikasi sendiri ya, pintar-pintarnya mereka [pelaku ODOL] saja. Jadi menurut saya sebenarnya harus dicari root cost-nya di mana, itu yang paling penting, sebabnya kenapa mereka memilih ODOL,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Truk ODOL

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top