BI : Konsumen Optimis, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Sentuh 5,1 Persen

Bank Indonesia menjamin optimisme konsumen September 2019  belum menandakan kewaspadaan tinggi atau penurunan daya beli konsumen meskipun turun dibandingkan Agustus 2019.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 04 Oktober 2019  |  18:15 WIB
BI : Konsumen Optimis, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Sentuh 5,1 Persen
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia menjamin optimisme konsumen September 2019  belum menandakan kewaspadaan tinggi atau penurunan daya beli konsumen meskipun turun dibandingkan Agustus 2019.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan hasil Survei Konsumen September 2019 sebesar 121,8 memang lebih rendah dari survei optimisme konsumen pada Agustus 2019 yang tercatat sebesar 123,1.

“Namun 121,8 masih menunjukkan konsumen optimis, dan optimisme ini didukung persepsi yang tetap positif atas kondisi saat ini, maupun kondisi ke depan,” kata Perry di Kompleks Bank Indonesia, Jumat (4/10/2019).

Hal ini juga kata Perry masih berkaitan dengan ekspektasi penghasilan juga masih optimis. Semua variabel ini menurut Perry akan mendukung hasil Survei Konsumen September 2019.

Dia juga memastikan, dengan pencatatan survei di atas 100, maka sentimen positif ini menandakan pertumbuhan ekonomi masih akan bertopang dari konsumsi.

Secara khusus, menurut Perry konsumsi rumah tangga akan mengambil peran besar pada pertumbuhan ekonomi enam bulan ke depan.

“Ini bisa memberikan perlindungan bagi pertumbuhan ekonomi kita ke depan, dan harapannya bisa mencapai 5,1 persen akhir tahun ini ditopang konsumsi dan membaiknya investasi bangunan dan swasta,” ujar Perry.

Dia memerinci, konsumsi sebagai penopang pertumbuhan ekonomi juga akan sangat tergantung dengan penghasilan. Dia menilai, geliat konsumsi untuk masyarakat berpenghasilan rendah juga cukup tinggi berkat bantuan sosial (bansos).

“Ini cukup baik, cukup ampuh mendorong konsumsi di tingkat bawah dan tingkat menengah, termasuk juga dukungan dari Bank Indonesia melalui elektronifikasi bantuan sosial,” tutur Perry.

Selain itu, dari investasi bangunan yakni infrastruktur diyakini masih akan menopang pertumbuhan ekonomi. Perry menyatakan, selanjutnya investasi swasta akan didorong khususnya untuk investasi non bangunan. Hal ini tercermin dari langkah awal BI dengan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali tahun ini.

“Pemangkasan suku bunga bukan hanya mendorong kenaikan kemampuan perbankan menyalurkan pinjaman dari sisi suplai, tapi juga untuk meningkatkan kredit dan pembiayaan dari perbankan maupun pasar modal,” paparnya.

Beberapa langkah lain adalah melalui relaksasi makroprudensial yaitu pelonggaran Loan To Value (LTV) untuk kendaraan bermotor dan property. Selain itu BI masih memberikan insentif tambahan berupa keringanan biaya bagi dua sektor tersebut jika berlabel produk berwawasan lingkungan atau green.

Dia berharap, pada triwulan III dan triwulan IV ekspansi fiskal akan lebih besar. Apalagi, belanja fiskal utamanya pada dua triwulan ini akan cenderung meningkat. BI juga berjanji akan mendorong sektor riil lain seperti; manufaktur, pariwisata, UMKM, dan keuangan digital.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik Kecuk Suhariyanto menyatakan, pada September 2019 terjadi deflasi sebesar -0.27 persen, secara (y-o-y), inflasi September 2019 tercatat 3,39 persen. Sementara Inflasi Tahun Kalender yakni Januari 2019-September 2019 tercatat 2,20 persen.

Suhariyanto menyatakan, deflasi ini disebabkan oleh penurunan harga. Dia menampik adanya penurunan daya beli dalam pencatatan deflasi September 2019 lalu.

“Deflasi ini akibat penurunan harga, bukan adanya penurunan daya beli,” pungkas Suhariyanto.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top