APSyFI : Safeguard Industri TPT Masih Kurang

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menyatakan besaran bea masuk hasil safeguard harus dapat menjaga industri lokal dari serbuan barang tekstil dan produk tekstil (TPT) impor.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 27 September 2019  |  08:36 WIB
APSyFI : Safeguard Industri TPT Masih Kurang
ilustrasi. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menyatakan besaran bea masuk hasil safeguard harus dapat menjaga industri lokal dari serbuan barang tekstil dan produk tekstil (TPT) impor.

Namun demikian, pengajuan bea masuk safeguard saat ini dinilai belum mampu memulihkan industri TPT nasional.

Sekretaris Jenderal APSyFI Redma Wirawasta mengatakan penambahan bea masuk hasil safeguard tersebut tidak akan berlaku bagi negara yang memiliki perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dengan pemerintah. Dengan kata lain, TPT impor China yang menjadi akar permasalahan masih akan berpotensi masuk ke dalam negeri.

“Karena China sudah FTA, maka tidak kena [bea masuk] MFN [most favourable nations]. Jadi, kalau besaran safeguard-nya kecil tidak akan pengaruh untuk pemulihan industri TPT,” katanya kepada Bisnis, Kamis (26/9/2019).

MFN merupakan bea masuk yang dikenakan atas barang impor kecuali negara yang memiliki perjanjian khusus mengenai tarif bea masuk. Berdasar hal tersebut, Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) menyarankan agar bea masuk hasil safeguard untuk benang minimal 60%, kain minimal 80%, dan garmen minimal 100%.

Redma menyatakan asosiasi sependapat dengan usulan tersebut lantaran semua safeguard di dunia selalu di atas 80%. “Karena untuk jaminan pemulihan. Besaran Safeguard harus menjamin impor turun jauh sehingga industri dalam negeri bisa pulih,” katanya.

Redma menyarankan agar besaran safeguard pada serat polyester minimal 21% atau sekitar US$25 sen per kilogram. Sementara itu, produk proses selanjutnya dapat mengikuti besaran yang ditetapkan pada serat polyester.

Pihaknya memproyeksikan industri TPT nasional dapat kembali sehat jika besaran safeguard benar-benar menurunkan impor. Menurutnya, jika hal itu terjadi, utilitas industri TPT bisa melonjak ke level 85%-90% dalam jangka 3 tahun.

Selain itu, akan ada pertumbuhan investasi di seluruh sektor industri TPT di atas 30% dengan pangsa pasar industri lokal lebih dari 85%. Jika diperinci, Redma menghitung pangsa pasar industri hulu TPT akan naik menjadi 65%, antara 55%, dan hilir 70%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri tpt

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top