Begini Strategi Dorong Ekspor Kopi Indonesia

Deputi Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif Joshua Simajuntak mengatakan bahwa Bekraf memiliki strategi pendekatan yang berbeda untuk mendorong ekspor kopi Indonesia ke mancanegara dengan meningkatkan brand dan nilai tambah dari kopi tersebut.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 24 September 2019  |  00:45 WIB
Begini Strategi Dorong Ekspor Kopi Indonesia
Petani memanen kopi arabika di Desa Mekarmanik, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (20/6/2019). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia merupakan salah satu negara penghasil biji kopi terbesar di dunia dengan jumlah produksi mencapai lebih dari 600.000 ton per tahun. Dari total tersebut, lebih dari 70% diekspor ke luar negeri yang sebagian besar masih dalam bentuk komoditas.

Deputi Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif Joshua Simajuntak mengatakan bahwa Bekraf memiliki strategi pendekatan yang berbeda untuk mendorong ekspor kopi Indonesia ke mancanegara dengan meningkatkan brand dan nilai tambah dari kopi tersebut.

“Kami akan berusaha mendorong brand kopi Indonesia, terutama yang dihilir sehingga usaha kreatif kopi atau retailer kopi dalam terus bertumbuh, dalam artian memperluas pasar mereka hingga ke luar negeri,” ujarnya belum lama ini.

Pasalnya, ketika kopi telah diolah dan memiliki brand yang dikenal secara dunia, maka nilai jualnya akan jauh lebih tinggi dibandingkan kopi dalam bentuk komoditas. Untuk meningkatkan branding kopi secara global, Bekraf mengkampanyekan dan meluncurkan logo Kopi Indonesia sebagai identitas pemersatu kopi dari Indonesia.

Hal ini berangkat dari banyaknya kopi asli Indonesia yang dikenal luas di mancanegara seperti kopi Flores Bajawa, Kintamani, Kopi Aceh, Kopi Toraja, dan lain sebagainya. Tetapi penikmat kopi hanya tahu asal daerahnya tapi tidak tahu dari negara mana kopi-kopi tersebut berasal.

“Melalui logo dan brand Kopi Indonesia, diharapkan ketika para penikmat kopi menemukan kata “kopi” maka dia akan tahu bahwa itu berasal dari Indonesia. Jadi untuk penamaan kami juga akan berkoordinasi dengan para retailer kopi di luar negeri untuk mencantumkan kata “kopi” di menu mereka sehingga perlahan orang paham bahwa kopi adalah Indonesia,” terangnya.

Untuk memperluas branding Kopi Indonesia secara mancanegara, peran serta retailer café Indonesia sangat penting. Sebab, di tangan merekalah brand dan kualitas kopi Indonesia semakin dikenal oleh masyarakat global.

Selain itu, dengan kehadiran kafe-kafe tersebut di luar negeri, juga akan semakin meningkatkan ekspor kopi karena otomatis mereka harus memenuhi permintaan kopi untuk kebutuhan di kafe mereka.

Pasalnya, satu kedai kopi skala kecil dan menengah membutuhkan setidaknya 500 kg kopi pertahun.

“Bisa dibayangkan seandainya satu brand retail kopi seperti Anomali, Tanamera, atau Upnormal ada 10 cabang, sudah lima ton kopi yang secara continue pasti diimpor oleh perusahaan kopi tersebut. Dan mereka juga akan berjualan secara retail kepada konsumen dengan nilai jual yang lebih tinggi,” tuturnya.

Hal ini tentu saja akan memberikan pemasukan atau devisa yang jauh lebih tinggi. Di sinilah kemudian yang menjadi tantangan pemerintah untuk menciptakan ekosistem agar pemilik brand retail kopi bisa hadir dan mempeluar pasar hingga ke luar negeri.

Bukan hanya satu atau dua tetapi serangkaian bisnis kopi yang berbasis brand sehingga brand Kopi Indonesia semakin dikenal dimancanegara sekaligus dapat meningkatkan nilai tambah untuk ekspor kopi Indonesia.

“Untuk itu kami siap menyediakan paket insentif yang sangat progresif untuk menggairahkan para retailer kopi Indonesia, terutama pemilik brand untuk mengembangkan bisnis mereka di luar negeri,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top