Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perhapi : Aturan Wajib Eksplorasi Tambang Jadi Langkah Positif

Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) tak keberatan atas beleid yang tengah digodok oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tentang kewajiban perusahaan tambang mineral untuk melakukan kegiatan eksplorasi. 
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 23 September 2019  |  14:42 WIB
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA — Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) tak keberatan atas beleid yang tengah digodok oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tentang kewajiban perusahaan tambang mineral untuk melakukan kegiatan eksplorasi. 

Ketua Umum Perhapi Rizal Kasli mengatakan rencana tersebut merupakan langkah positif karena sudah seyogianya perusahaan tetap melakukan kegiatan eksplorasi pada saat berproduksi. 

Pertimbangannya, pada saat perusahaan masih pada tahap kegiatan eksplorasi atau Izin Usaha Pertambangan (IUP) eksplorasi, tidak semua wilayah akan tereksplorasi mengingat adanya keterbatasan waktu.

"Umumnya perusahaan juga ingin mempercepat kegiatan produksinya agar investasinya bisa cepat kembali sehingga pada saat perusahaan sudah pada tahap produksi, perusahaan tetap melakukan kegiatan eksplorasinya," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (22/9). 

Oleh karena itu, dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB), perusahaan tetap menganggarkan dana untuk kegiatan eksplorasi untuk menambah sumber daya maupun cadangan.

"Mengonversi sumber daya menjadi cadangan sehingga layak untuk ditambang. Umumnya untuk memperpanjang umur tambang," terangnya.

Umumnya, perusahaan melakukan kegiatan eksplorasi hanya sebatas sampai umur tambang saja dan menyesuaikan dengan tingkat produksinya dan perkembangan pasar.

Dia mengusulkan agar besaran dana eksplorasi dapat dilakukan bersama antara perusahaan dan ESDM. Adapun umumnya dana eksplorasi tahunan berkisar antara 1 persen hingga 2 persen dari bujet tahunannya. Kalau sudah berproduksi, anggaran eksplorasi bisa disesuaikan dengan pendapatan perusahaan.

Menurutnya, yang perlu diperhatikan oleh pemerintah, yakni insentif apa yang bisa diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan yang melakukan eksplorasi lanjutan tersebut. Dia mencontohkan, perusahaan yang menemukan cadangan baru bisa mendapat prioritas dalam pengelolaannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas pertambangan
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top