OECD Proyeksikan Laju Ekonomi Global Alami Pertumbuhan Terlemah

Prospek pertumbuhan ekonomi terbaru yang dirilis oleh Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menggarisbawahi pemerintah tidak melakukan cukup untuk mencegah kerusakan jangka panjang.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 20 September 2019  |  06:27 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Konflik perdagangan yang terus terintensifikasi telah menggiring momentum pertumbuhan global ke posisi terendah yang terakhir kali disaksikan selama krisis keuangan.

Prospek pertumbuhan ekonomi terbaru yang dirilis oleh Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menggarisbawahi pemerintah tidak melakukan cukup untuk mencegah kerusakan jangka panjang.

Organisasi yang berbasis di Paris itu memangkas hampir semua perkiraan ekonominya empat bulan lalu karena kebijakan proteksionis semakin menambah beban pada kepercayaan terhadap pasar dan investasi, sedangkan risiko terus meningkat di pasar keuangan.

OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya akan mencapai kisaran 2,9%

"Prospek global menjadi semakin rapuh dan tidak pasti. Meningkatnya ketegangan kebijakan perdagangan semakin menambah tekanan pada kepercayaan terhadap pasar dan investasi," kata OECD, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (19/9/2019).

OECD adalah satu dari sekian lembaga internasional yang membunyikan sinyal peringatan atas keadaan ekonomi global.

Dalam 2 pekan terakhir, The Fed, Bank Sentral Eropa, Bank Sentral China dan bank sentral lainnya telah melonggarkan kebijakan untuk menopang lesunya permintaan, mendesak pemerintah pada saat yang sama bahwa stimulus fiskal akan diperlukan untuk memastikan upaya mereka tidak akan sia-sia.

Dampak dari perang dagang yang merusak antara AS dan China juga telah mengorbankan sektor manufaktur.

Di sisi lain, sektor jasa sejauh ini menunjukkan ketahanan yang tidak terduga terhadap malaise tesebut, tetapi OECD memperingatkan bahwa pelemahan yang terus menerus di sektor industri lambat laun akan membebani pasar tenaga kerja, pendapatan rumah tangga, dan minat belanja.

Menurut laporan tersebut, risiko tambahan berasal dari perlambatan pertumbuha yang lebih tajam di China dan no-deal Brexit yang dapat mendorong Inggris ke dalam resesi dan akan memangkas pertumbuhan di Eropa.

"Upaya kolektif sangat mendesak untuk menghentikan penumpukan tarif dan subsidi yang mendistorsi perdagangan," kata OECD.

Kebijakan moneter disarankan harus tetap akomodatif di negara maju. Efektivitas kebijakan moneter akomodatif dapat ditingkatkan jika disertai dengan dukungan kebijakan fiskal dan struktural yang lebih kuat.

Menyusul dorongan stimulus moneter terbaru ECB, Gubernur Mario Draghi mengatakan ini adalah waktu yang tepat bagi kebijakan fiskal untuk mengambil alih, menandakan tidak banyak lagi yang bisa dilakukan oleh bank sentral.

"Di kawasan euro, menggunakan kebijakan fiskal dan struktural, di samping kebijakan moneter, akan lebih efektif untuk pertumbuhan dan menciptakan lebih sedikit distorsi keuangan daripada terus bergantung pada kebijakan moneter," kata OECD.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi global

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top