Pelaku Industri minta Safeguard TPT Pakai Skema Nilai per Volume

Pelaku industri tekstil nasional sedang mendorong penggunaan skema besaran nilai per satuan volume daripada peningkatan presentase bea masuk.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 18 September 2019  |  15:12 WIB
Pelaku Industri minta Safeguard TPT Pakai Skema Nilai per Volume
ilustrasi. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA –  Pelaku industri tekstil nasional sedang mendorong penggunaan skema besaran nilai per satuan volume daripada peningkatan presentase bea masuk.

Hal tersebut disebabkan oleh tambahan bea masuk yang diajukan belum seimbang dengan total selisih harga antara tekstil impor dan lokal.

Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) sebelumnya mendata harga kain impor lebih rendah 15%-20% dari kain lokal pada tingkat konsumen, 30%-40% pada tingkat peritel, dan hingga 60% pada gudang industri. Adapun, tambahan bea pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berjenjang di kisaran 2,5%-32,5%.

“Benang kapas dulu kami safeguard Rp28.000 per kg dan kain 116.000 per kg. Itu semua di atas 100% kalau dihitung dari presentasi [dari harga tekstil impor],” ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta kepada Bisnis belum lama ini.

Redma mengatakan Amerika Serikat, Turki, dan Jepang selalu menambahkan bea masuk sebesar 100% jika mengenakan safeguard. Redma menilai hal tersebut dilakukan untuk memulihkan kesehatan industri TPT negara masing-masing.

Menurutnya, industri tekstil nasional dapat pulih jika nilai yang dikenakan pada safeguard nanti dapat mengikuti Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 58/2011. Menurutnya, utilitas pabrikan bakal melonjak lebih dari 80% saat kondisi industri TPT domestik sudah pulih dari posisi saat ini rata-rata sebesar 60%.

Namun, Redma mengatakan pemerintah juga harus meningkatkan tingkat atraksi berusaha di dalam negeri agar masa pengenaan safeguard tersebut dapat sekaligus menarik investasi baru. Adapun, peningkatan daya saing yang dimaksud adalah daya saing di bidang energi, logistik, kebijakan moneter dan fiskal, produktivitas sumber daya manusia (SDM), dan inovasi produk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri tpt

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top