26 Korporasi Perkebunan Pulihkan 218.355 Hektare Gambut

Badan Restorasi Gambut (BRG) pada September 2018 hingga Agustus 2019 melakukan supervisi terhadap 26 perusahaan perkebunan untuk melakukan restorasi hidrologi. Adapun luasan arealnya sebanyak 218.355 hektare.
Desynta Nuraini
Desynta Nuraini - Bisnis.com 14 September 2019  |  01:01 WIB
26 Korporasi Perkebunan Pulihkan 218.355 Hektare Gambut
Lahan gambut. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Restorasi Gambut (BRG) pada September 2018 hingga Agustus 2019 melakukan supervisi terhadap 26 perusahaan perkebunan untuk melakukan restorasi hidrologi. Adapun luasan arealnya sebanyak 218.355 hektare.

Terdiri dari 29.049 di Sumatera Selatan, 137.034 di Riau, 26.024 di Jambi, 5.576 di Kalimantan Selatan, 20.670 di Kalimantan Barat.

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan BRG, Myrna Safitri menyebut, 26 perusahaan yang disupervisi sudah memiliki dokumen pemulihan dan diketahui taat menjalankan perintah untuk merestorasi gambut. Awalnya para pemegang lahan konsesi itu ragu untuk memberikan dokumen tersebut ketika BRG mendatangi mereka.

Dengan menunjukkan dokumen, mereka takut diberi sanksi lanjutan karena melakukan restorasi yang tidak tepat. Myrna mengakui sebelum timnya datang melakukan supervisi, para korporasi itu pada umumnya membangun sumur bor atau kanal secara asal.

Hal tersebut dikarenakan ketidaktahuan mereka membaca peta air untuk melakukan restorasi dan ketersediaan sarana pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Hingga pada akhirnya ahli BRG datang memberitahu cara bagaimana melakukan restorasi hidrologi secara tepat.

"Sekarang (korporasi) berbondong-bondong minta diberikan bimbingan," ujarnya saat diskusi di Kawasan Menteng, Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Melihat antusiasme itu, BRG mengubah strategi. Biasanya dalam rangka supervisi, mereka mendatangi langsung korporasi yang terlibat Karhutla dan telah diberi mandat untuk melakukan restorasi gambut, setidaknya dua kali.

Untuk 14 bulan ke depan seiring masa aktif BRG, Myrna mengatakan akan mengajak Dinas Lingkungan Hidup untuk mengumpulkan Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG). Selain efisiensi, waktu dan biaya, dengan mengumpulkan KHG, perusahaan bisa saling mengenal dan mencari solusi serta langkah bersama untuk melakukan restorasi hingga mencegah terjadinya karhutla.

"Hampir semua dari mereka tidak pernah bertemu. Karena ini masalah tata air, kalau mau kumpul kita buka petanya, soal tata air ini bisa selesai," tuturnya.

Hingga akhir 2018, BRG telah memfasilitasi dan mengoordinasikan pembasahan gambut di areal non konsesi seluas 679.901 hektare atau 76% dari total areal restorasi gambut di luar konsesi seluas 892.248 hektare.

Adapun untuk areal konsesi, total areal yang masuk ke dalam target restorasi gambut seluas 1.784.353 hektare, terdiri dari 1.217.053 hektare areal konsesi kehutanan dan 555.659 hektare areal perkebunan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gambut

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top