Bisnis.com, JAKARTA – Surplus transaksi berjalan tahunan Turki melebar ke level tertinggi sejak Januari 2002 saat impor terus dibatasi lesunya permintaan konsumen.
Dalam pernyataannya hari ini, Jumat (13/9/2019), Bank Sentral Turki mengatakan neraca transaksi berjalan mencatat surplus bulanan sebesar US$1,16 miliar pada Juli 2019.
Nilai itu sedikit lebih rendah daripada estimasi median dalam survei Bloomberg untuk surplus bulanan US$1,3 miliar.
“Dengan demikian, surplus bergulir 12 bulan menjadi US$4,45 miliar,” papar Bank Sentral Turki (CBRT), seperti dilansir dari Bloomberg.
Data tersebut menggarisbawahi skala penyesuaian ekonomi yang sedang berlangsung di Turki setelah jatuhnya mata uang negara ini tahun lalu dan pengetatan moneter yang agresif membatasi permintaan domestik.
Penyesuaian ini dipimpin oleh penyempitan defisit perdagangan, yang menyusut sebesar US$2,42 miliar dari tahun sebelumnya menjadi US$2,52 miliar.
Sementara itu, pada Juli 2018, Turki mencatat defisit US$2,18 miliar. Transaksi berjalan Turki telah beralih ke surplus dari defisit yang besar setelah krisis mata uang tahun lalu membuat permintaan impor menurun.
Pada Juni 2019, neraca berjalan mencatat surplus pertama sejak partai yang dihuni Presiden Recep Tayyip Erdogan mulai berkuasa 17 tahun lalu.