Ekspor Pekerja Migran, Indonesia Perlu Perkuat Kerja Sama Bilateral

Ketua Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan selama ini penyumbang pendapatan sekunder tertinggi masih bersumber dari pekerja migran.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 10 September 2019  |  11:06 WIB
Ekspor Pekerja Migran, Indonesia Perlu Perkuat Kerja Sama Bilateral
Pekerja Migran Indonesia (PMI) menunggu pendataan oleh petugas BP3TKI saat tiba di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Minggu (27/5/2018). - ANTARA/Reza Novriandi

Bisnis.com, JAKARTA -- Melalui kerja sama bilateral selain mendorong ekspor, tenaga kerja Indonesia juga bisa diperkuat menembus seluruh negara Asia Tenggara dan pasar global.

Ketua Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan selama ini penyumbang pendapatan sekunder tertinggi masih bersumber dari pekerja migran.

Dia menilai keran penerimaan dari remitansi pekerja migram bisa bertambah jika Indonesia meningkatkan kapasitas pekerjanya.

"Harus ada peningkatan skills, kalau makin tinggi semakin naik level ke jasa yang lebih tinggi," ujar Andry di Plaza Mandiri, Senin (9/9/2019).

Cara memperkuat adalah dengan melakukan kerja sama bilateral dengan negara-negara lain dan khususnya perusahaan multinasional.

Asal tahu saja, berdasarkan Laporan Neraca Pembayaran Kuartal II/2019, neraca perdagangan jasa mengalami defisit US$2,0 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya, yakni US$1,9 miliar. Pasalnya peningkatan tersebut dipengaruhi oleh menurunnya surplus jasa perjalanan.

Durplus neraca perjalanan pada kuartal ini tercatat US$0,8 miliar. Angka ini menurun dibandingkan dengan surplus pada kuartal sebelumnya US$1,4 miliar.

Laporan ini menyebutkan penurunan surplus neraca jasa perjalanan tersebut dipengaruhi oleh penurunan penerimaan jasa perjalanan -11,0% (q-t-q) dan kenaikan pembayaran (impor) jasa perjalanan sebesar 8,5% (q-t-q).

Pembayaran jasa perjalanan tercatat sebesar US$2,2 miliar pada kuartal II/2019. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan pembayaran kuartal sebelumnya sebesar US$2,0 miliar.

Peningkatan pembayaran disebabkan oleh lebih tingginya jumlah kunjungan wisatawan nasional ke luar negeri yakni 2,57 juta kunjungan pada kuartal I/2019 menjadi 2,63 juta kunjungan.

Selain menggenjot pendapatan dari pekerja migran, Indonesia juga diharapkan bisa mencegah penularan resesi ekonomi dengan membuka peluang kerja sama kepada negara second peer atau negara Asia Tenggara di luar Asean 5.

Andry memerinci, resesi akan menimpa negara Asean 5 yakni Singapura dan kemungkinan disusul oleh Thailand. Dia beralasan resesi perekonomian karena kontribusi ekspor dan sektor eksternal PDB semakin mengecil.

"Sisi positifnya adalah bagaimana memanfaatkan negara-negara di kawasan Asean juga," ujar Andry.

Adapun negara berlabel Asean 5 meliputi; Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Thailand.

Saat ini Indonesia masih kalah saing dalam menarik perhatian investasi langsung untuk manufaktur. Misalnya saja, investor dari China malah memilih masuk ke Kamboja dan Vietnam. Dia memprakirakan negara-negara di luar Asean 5 ini pertumbuhannya tinggi meski masih merupakan negara berkembang.

"Maka kita juga perlu melirik peluang second peer Asean. Second peer itu dalam artian misalnya bukan cuma Asean 5," sambungnya.

Dari dasar asumsi kemungkinan besar masih ada peluang pertumbuhan di Asean yang non-Asean 5.

"Itu jadi peluang untuk tumbuh lebih maju untuk ekspor," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pekerja migran

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top