Saat Desain Bandara Hadirkan Wajah Indonesia

Sebagai gerbang masuk wisatawan, bandara seolah menjadi etalase. Desain interior sebuah pun bandara memegang peranan penting dalam membentuk kesan pertama para pelancong yang hadir ke suatu daerah.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 07 September 2019  |  00:49 WIB
Saat Desain Bandara Hadirkan Wajah Indonesia
Umat Hindu melakukan ritual 'melaspas' terkait pembangunan perluasan Bandara Ngurah Rai, Bali, Jumat (28/9/2018). - ANTARA/Wira Suryantala

Bisnis.com, JAKARTAS - Sebagai gerbang masuk wisatawan, bandara seolah menjadi etalase. Desain interior sebuah pun bandara memegang peranan penting dalam membentuk kesan pertama para pelancong yang hadir ke suatu daerah, baik pelancong nusantara maupun pelancong mancanegara.

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, pengelola bandara pun terus bebenah. Bandara menghadirkan desain terminal yang modern, nyaman, dan canggih sambil mengangkat kekuatan budaya setempat sekaligus menjadi bagian dari promosi wisata.

Perubahan desain tersebut tentu saja tak lepas dari semakin tingginya pertumbuhan jumlah penumpang pesawat yang membuat bandara menjadi semakin padat dan pada akhirnya harus diperluas dan direnovasi.

Sekretaris perusahaan AP I Handy Heryudhitiawan mengatakan sejak dilakukannya deregulasi penerbangan pada tahun 2.000 yang menghadirkan berbagai jenis penerbangan berbiaya murah, jumlah penumpang pesawat terus meningkat, hingga mencapai puncaknya pada 2017.

“Tahun ini saja, jumlah penumpang AP I mencapai 96 juta. Pertumbuhan penumpang yang tinggi membuat bandara-bandara kami menjadi sangat padat,” ujarnya.

Dia mencontohkan bandara di Balikpapan yang pada tahun 2011 kapasitas terminalnya hanya untuk 1,5 juta penumpang tetapi harus melayani 5,5 juta orang. Begitu pula dengan bandara di Banjarmasin yang kapasitas hanya untuk 1,3 juta penumpang tetapi harus melayani 3,5 juta orang.

Berangkat dari kebutuhan terminal bandara yang lebih luas, AP I terus membangun terminal baru yang lebih luas, modern sekaligus menghadirkan unsur budaya dan kearifan lokal.

Hal itu dimulai sejak pembangunan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar tahun 2006, yang mengangkat konsep atap berombak dengan ujung haluan kapal yang mencerminkan bahwa bandara kental dengan budaya laut. Dalam desainnya, plafon terminal juga dibentuk menyerupai warna kain khas Makassar.

“Tahun 2010, kami membangun Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali yang sangat kental dengan nuansa modern, megah tetapi sangat erat dengan nuansa dan kultur Bali. Aroma dupa, musik gamelan, visual ornamen Bali. Ini akan memberi kesan mendalam bagi penumpang pesawat yang datang ke Bali. Apalagi 50 persen profil pengguna bandara Denpasar merupakan wisatawan,” tuturnya.

Selain Bali, AP I juga membangun bandara Balikpapan dengan ciri motif dayak, atap berombak dan facade cabang pohon sehingga menjadi tren untuk bangunan-bangunan di Kalimantan. Konsepnya juga menarik yakni Airport Mall sehingga masyarakat dapat masuk ke dalam terminal untuk berbelanja.

Dilanjutkan pada 2016 dengan dioperasikannya terminal baru Semarang, 2017 mulai dibangun Banjarmasin dengan tambahan ornamen motif kain Sasirangan, 2018 New Yogyakarta yang diberi aksen motif Kawung, dan lainnya.

Menurut Handy, untuk membangun bandara-bandara tersebut, investasi yang dibutuhkan sangat bergantung pada konsep yang ingin dihadirkan. Misalnya, Bandara di Bali yang bernilai Rp2,5 triliun sudah termasuk interior, Banjarmasin yang saat ini masih dibangun senilai Rp2,3 triliun pun termasuk desain interiornya.

“Untuk pengembangan dan pembangunan bandara, kami menggunakan arsitek dan desainer Tanah Air karena mereka lebih mengenal budaya dan kultur bangsa kita,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
budaya, bandara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top