Begini Cara Kominfo Jembatani Startup Raih Pendanaan

Mempertemukan startup dengan angel investor atau venture capital menjadi salah satu program Kementerian Kominfo dalam mendorong lahirnya unicorn baru di Indonesia.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 07 September 2019  |  01:05 WIB
Begini Cara Kominfo Jembatani Startup Raih Pendanaan
Pendiri idEA Daniel Tumiwa (dari kiri), Nadiem Makarim dari Go-Jek, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Kepala BKPM Thomas Lembong, William Tanuwijaya dari Tokopedia, dan Ferry Unardi dari Traveloka dalam jumpa pers Nexticorn International Summit di Bali, Rabu (9/5/2018) - Demis Rizky Gosta

Bisnis.com, JAKARTA - Mempertemukan startup dengan angel investor atau venture capital menjadi salah satu program Kementerian Kominfo dalam mendorong lahirnya unicorn baru di Indonesia.

Untuk menjembatani para startup potensial mendapatkan pendanaan (funding) dari para investor baik global maupun nasional, Kementerian Kominfo merancang Yayasan Next Indonesia Unicorn. 

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam satu kesempatan mengatakan tujuan program tersebut tentu saja untuk mencetak sejumlah unicorn baru di Indonesia. Unicorn adalash sebutan untuk perusahaan yang valuasinya mencapai US$1 miliar.

Para startup yang ikut dalam Yayasan Next Indonesia Unicorn menurut Rudiantara harus benar-benar berkualitas bahkan memiliki skala internasional.

Kementerian Kominfo tidak main-main dalam hal ini, dan meminta bantuan Ernst &Young untuk mengkurasi startup tersebut.

Rudiantara berharap dengan menggandeng Ernst & Young akan meningkatkan kepercayaan calon investor kepada para startup tersebut.

“Nantinya, para startup yang lolos kurasi ini akan saya bawa roadshow langsung bertemu dengan para venture capital baik di dalam maupun di luar negeri.  Para startup ini nantinya presentasi langsung di hadapan investor. Tahun lalu sudah dilakukan dua kali, tahun ini Oktober ada di Bali,” ujarnya.

Menurut Rudiantara para startup yang dapat mengikuti program Next Indonesia Unicorn ini tidak harus berasal dari peserta program 1,000 startup. Siapa pun memiliki kesempatan dan kemudian akan ditest oleh E&Y.

Indonesia saat ini baru memiliki 3+1 unicorn yaitu Bukalapak, Traveloka, Tokopedia, dan Gojek yang sudah naik kelas menjadi decacorn, perusahaan yang nilai valuasinya mencapai US$10 miliar.

"Sebagai fasilitator,  Kemenkominfo berperan mengembangkan ekosistem digital dengan mencetak 1000 startup.  Kemudian sebagai akselerator, tugas kami membimbing agar para startup dapat berkembang menjadi unicorn baru bahkan menjadi decacorn. Targetnya tahun ini kita punya 5 unicorn,  sekarang kita baru punya 4 unicorn," ujar Rudiantara.

Sebetulnya Indonesia memiliki banyak startup yang potensial untuk menjadi unicorn. Namun, sambungnya, seberapa cepat proses untuk menjadi unicorn sangat bergantung pada besar kecilnya pendanaan yang diberikan serta persetujuan dari startup tersebut terkait nilai valuasi yang mereka dapatkan.

Selain masalah pendanaan, para startup tersebut juga harus terus dilatih dan mendapatkan mentor agar kemampuan dan kapasitas bisnisnya dapat meningkat. Untuk itu, dalam Yayasan Next Indonesia Unicorn ini, pemerintah menggandeng sejumlah mentor yang akan memberi dukungan dan pelatihan kepada para startup tersebut.

Selain dari pemerintah, sejumlah komunitas dan organisasi juga turut mendorong bertumbuhnya ekosistem digital di Indonesia, salah satunya Endeavor Indonesia. Organisasi kewirausahaan global ini fokus mengakselerasi pertumbuhan sejumlah perusahaan startup sehingga dapat menjadi high impact entrepreneur.

Dalam laporan Impact Report 2016-2018 Endeavor Indonesia berhasil menciptkan 10.100 pekerjaan berkualitas tinggi dari 35 perusahaan startup yang dijalankan 43 Endeavor Entreprenuers (EE) di Indonesia. Beberapa di antaranya Bukalapak, Kata.ai, Investree, Brodo, Female Daily Network, Sorabel, dan lainnya.

Pada 2018, sejumlah perusahaan tersebut berhasil membukuan pendapatan sebesar Rp31,5 triliun (US$2,2 miliar).

Harun Hajadi, Chaiman Endeavor Indonesia, mengatakan untuk menumbuhkan ekosistem yang dinamis sejak 2016 hingga 2018, pihaknya telah memfasilitasi lebih dari 2.000 jam pendampingan untuk entrepreneur serta menyelenggarakan lebih dari 50 acara dengan total hampir 8.000 peserta.

“Kami membantu entrepreneur mengakselerasi pertumbuhannya dan melipatgandakan dampak antara lain dengan memberikan akses ke pasar dan [menghadirkan] pakar industri sebagai mentor, serta membantu mempermudah ke akses permodalan,” ujarnya.

Untuk menjadi bagian dari Endeavor Indonesia, para pelaku usaha dapat mendaftarkan diri, untuk kemudian melewati tahapan kurasi. Biasanya perusahaan terpilih adalah yang bisa menjadi role model di bidangnya. “Setelah mendapat mentoring, untuk dinyatakan lulus sebagai EE harus disetujui oleh 9 juri utama Endeavor global,” jelas Harun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp, Unicorn

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top