Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah Kembali Minta Perusahaan Pembibitan Pangkas Populasi Ayam

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian kembali mengeluarkan imbauan bagi perusahaan pembibitan ayam pedaging untuk mengendalikan populasi anak ayam usia sehari (day old chick/DOC) kelas final stock (FS).
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 03 September 2019  |  09:13 WIB
Suasana handling anak ayam atau DOC di bandara. - Berdikari
Suasana handling anak ayam atau DOC di bandara. - Berdikari

Bisnis.com, JAKARTA Pemerintah melalui Kementerian Pertanian kembali mengeluarkan imbauan bagi perusahaan pembibitan ayam pedaging untuk mengendalikan populasi anak ayam usia sehari (day old chick/DOC) kelas final stock (FS).

Dalam surat edaran Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian Nomor 02003/PK.010/F/09/2019 yang dikeluarkan pada 2 September 2019, sebanyak 44 perusahaan pembibitan unggas diminta untuk mengurangi produksi bibit ayam sebanyak 10 juta butir per minggu. Adapun untuk alokasi pemangkasan bagi tiap perusahaan perbibitan, Ditjen PKH melakukan perhitungan berdasarkan laporan realisasi produksi ayam ras broiler periode Juli 2019. 

Pengurangan ini dilakukan dengan cara penarikan telur tetas fertile dari dalam mesin tetas (hatcher) berumur 19 hari pada telur yang telah ditransfer dari setter (mesin tetas yang berfungsi sebagai alat pengeraman) ke hatcher

Direktur Perbibitan dan Produksi Kementan Sugiono mengemukakan imbauan ini berlaku secara nasional dan akan dievaluasi setiap 2 pekan.

"Akan ada pengurangan produksi FS melalui cutting [pengurangan] hatcher egg [telur tetas] berusia 19 hari dan penundaan setting [pengeraman]," kata Sugiono saat dikonfirmasi Bisnis pada Senin (2/9/2019).

Sugiono tak menyebutkan berapa lama penarikan akan berlaku, namun ia memastikan nasib kebijakan ini akan ditentukan setelah Tim Analisis Ketersediaan dan Kebutuhan Ayam Ras dan Telur Konsumsi Ditjen PKH mengevaluasi pelaksanaan penarikan pada pekan kedua sejak imbauan diedarkan.

Selain mengeluarkan imbauan untuk menarik 10 juta telur tetas usia 19 hari dalam sepekan, Ditjen PKH juga meminta perusahaan pembibitan untuk menunda setting telur tetas selama periode 2-7 September sebanyak 10 juta butir yang digunakan untuk kampanye peningkatan gizi anak sebagai bagian dari corporate social responsibility (CSR) yang pelaksanaannya dikoordinasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Dalam surat edaran yang dikirim ke perusahaan pembibitan, Kementan menyebutkan kebijakan pengurangan ini dilakukan dalam rangka mengatur keseimbangan penawaran dan permintaan DOC FS broiler sesuai dengan Permentan Nomor 32/Permentan/PK.230/09/2017 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Ketidakseimbangan antara ketersediaan dan konsumsi daging ayam acap kali menjadi faktor yang mengakibatkan fluktuasi harga ayam pedaging di tingkat peternak. Dalam sepekan terakhir, peternak mandiri mengaku bahwa harga ayam menunjukkan tren penurunan di bawah harga acuan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018. 

Jika harga acuan menyebutkan harga ayam siap potong berada di kisaran Rp18.000-Rp20.000/kg, data Persatuan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) memperlihatkan bahwa harga ayam berkisar di harga Rp9.000-Rp12.000/kg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peternak ayam
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top