AS Gandeng Australia dan Jepang Jajaki Investasi di Indonesia

Institusi pembiayaan pembangunan Pemerintah Amerika Serikat, Overseas Private Investment Corporation (OPIC) berencana untuk menjajaki peluang investasi pembangunan di Indonesia dan wilayah Indo-Pasifik.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  07:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Institusi pembiayaan pembangunan Pemerintah Amerika Serikat, Overseas Private Investment Corporation (OPIC) berencana untuk menjajaki peluang investasi pembangunan di Indonesia dan wilayah Indo-Pasifik.

Bekerja sama dengan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, Export Finance Australia, dan Japan Bank for International Cooperation (JBIC), para delegasi melakukan pertemuan di Jakarta pekan ini.

Selama berada di Indonesia, para mitra trilateral ini mengidentifikasi peluang bersama untuk mendorong pengerahan modal swasta guna mendukung pembangunan infrastruktur serta mendukung prinsip-prinsip Pandangan Asean (Asean Outlook) terhadap Indo-Pasifik.

Brian Churchill, Penasihat Senior OPIC untuk Indo-Pacific, mengatakan OPIC, DFAT, Export Finance Australia, dan JBIC memiliki investasi yang sangat besar di Indonesia, titik fokus dari sejumlah proyek pembangunan di kawasan ini.

Dia mengungkapkan bahwa selama lebih dari 5 dekade OPIC terlibat dalam 26 proyek senilai US$2,4 triliun di Indonesia dengan dana yang dikumpulkan dari para investor swasta.

Proyek terbaru yang melibatkan OPIC adalah PLTB Sidrap I, pembangkit listrik tenaga angin pertama di Indonesia yang diresmikan pada 2018 dengan total biaya investasi mencapai US$150 juta.

"Kami berencana untuk meningkatkan portofolio tersebut di Indonesia. Saat ini totalnya mencapai US$29 miliar, kami ingin gandakan menjadi US$60 miliar," ujar Churchill kepada Bisnis.com, Senin (26/8/2019).

Churchill yang juga merupakan White House Fellow tersebut menuturkan bahwa OPIC membidik lebih banyak investasi di sektor-sektor potensial seperti energi, teknologi informasi dan infrastruktur.

Dalam pemilihan proyek yang akan menjadi target investasinya, OPIC mengutamakan potensi pembangunan berkelanjutan, bankable dan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat.

"Indonesia adalah prioritas bagi kami. Kami akan memastikan bahwa kami dapat mengidentifikasi proyek potensial sambil bekerja sama dengan pemerintah di dalam negeri serta mitra kami dari Australia dan Jepang," ujarnya.

Dia menggambarkan bahwa Indonesia memiliki sektor pembangunan yang sangat transformatif dan didukung oleh pasar modal yang berkembang dengan baik.

Sejauh ini OPIC telah menjajaki sejumlah proyek pembangunan potensial yang akan segera diumumkan sesaat setelah tahap due diligince selesai dilakukan.

Menurutnya, negara-negara Asean membutuhkan setidaknya US$1,7 triliun secara keseluruhan setiap tahunnya, pemenuhan dana pembangunan tersebut bukan pekerjaan yang mudah.

OPIC tidak hanya melakukan dukungan dana investasi dan asuransi risiko politik, lembaga ini juga memberikan pembiayaan langsung, dalam program khusus, kepada usaha kecil dan menengah.

Lembaga ini turut menyambut baik rencana pemindahan Ibu kota Indonesia ke Kalimantan Timur sebagai potensi investasi yang dapat ditelaah lebih lanjut.

Menurutnya, rencana tersebut tidak hanya akan memunculkan ratusan potensi pembangunan di satu daerah tetapi juga mendorong pemerataan pembangunan di kawasan lain di Indonesia.

Dalam kunjungan ini, para delegasi bertemu dengan perwakilan dari Pemerintah Indonesia termasuk Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara serta para pejabat dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pertemuan juga dilakukan dengan perwakilan dari PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (IIGF), dan PT Sarana Multi Infrastruktur serta para pemimpin sektor swasta yang mewakili sektor-sektor prioritas termasuk transportasi, energi, dan ekonomi digital.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi asing

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top