Target Pengadaan Beras Dalam Negeri Bulog Sulit Tercapai Tahun Ini

Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa mengatakan target tersebut sangat sulit untuk terwujud lantaran musim panen kedua atau panen gadu di sejumlah wilayah sentra produksi mulai terhenti.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  09:54 WIB
Target Pengadaan Beras Dalam Negeri Bulog Sulit Tercapai Tahun Ini
Petani memanen padi di areal persawahan kawasan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/1/2019). - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Target pengadaan beras dari dalam negeri Perum Bulog sebesar 1,8 juta ton nampaknya sulit terwujud pada akhir tahun 2019.

Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa mengatakan target tersebut sangat sulit untuk terwujud lantaran musim panen kedua atau panen gadu di sejumlah wilayah sentra produksi mulai terhenti.

“Sulit tercapai, puncak panen sudah lewat dan mulai masuk musim paceklik,” katanya kepada Bisnis Selasa (27/8).

Menurutnya, produksi beras nasional pada 2019 kemungkinan tak lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu akibat adanya gangguan produksi yang berpotensi muncul akibat musim kemarau berkepanjangan.

“Produksi pada musim panen kedua kemungkinan akan mengalami penurunan sebesar 20 persen dibandingkan musim panen sebelumnya akibat penurunan luas lahan sekitar 500.000 Ha akibat puso” ujarnya.

Selain itu, kenaikan harga gabah yang terjadi semakin membuat Bulog sulit menyerap produksi dalam negeri.  Saat ini menurut Andreas harga gabah di sejumlah wilayah sentra produksi mencapai Rp6.000/kg.

Harga tersebut terpaut jauh dengan harga pembelian pemerintah (HPP) dengan fleksibilitas 10 persen, yakni Rp 4.030/kg dalam bentuk gabah atau Rp8.030 dalam bentuk beras sesuai Inpres No. 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras oleh Pemerintah.

Senada dengan Andreas, pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori menyebut pengadaan beras dalam negeri oleh Bulog pada tahun 2019 sulit untuk mencapai target 1,8 juta ton apabila melihat kondisi saat ini. Oleh karena itu, ia menilai sudah seharusnya pemerintah menyiapkan langkah intervensi agar tidak terjadi kekurangan stok yang mengakibatkan gejolak harga di pasaran.

“Kalau memang harus impor ya seharusnya tidak perlu gaduh karena itu demi kebaikan bersama, ketahanan stok pangan nasional,” kata Khudori.

Tidak Perlu Khawatir

Sementara itu, Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar Utomo mengatakan masyarakat tak perlu khawatir munculnya gejolak harga beras akibat kurangnya stok. Dia menjelaskan bahwa saat ini Bulog masih memiliki stok sebanyak 2,3 juta ton.

Kemudian terkait dengan target pengadaan tahun 2019, Bachtiar optimis target tersebut dapat tercapai dengan total serapan mencapai 4.000 ton per hari. Berdasarkan data per 27 Agustus 2019, total pengadaan beras dalam negeri Bulog baru mencapai 0,94 persen atau 52,2 persen dari total target.

Bulog optimis target tersebut dapat tercapai lantaran saat ini tidak lagi hanya membeli gabah atau beras dengan harga penugasan atau sesuai HPP. “Saat ini kami juga membeli dengan harga komersial yang mengikuti harga pasar,” ungkap Bachtiar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
produksi beras

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top