Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sentimen Konsumen Korea Selatan Terjun ke Kondisi Paling Suram

Dampak perang perdagangan dan kemerosotan ekspor menyeret sentimen konsumen di Korea Selatan ke kondisi paling suram dalam lebih dari dua setengah tahun.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  10:53 WIB
Bank sentral Korea. - Reuters
Bank sentral Korea. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Dampak perang perdagangan dan kemerosotan ekspor menyeret sentimen konsumen di Korea Selatan ke kondisi paling suram dalam lebih dari dua setengah tahun.

Melalui pernyataan Bank of Korea (BOK), Selasa (27/8/2019), indeks sentimen konsumen bulanan yang dirilis bank sentral Korsel tersebut turun menjadi 92,5 pada Agustus dari 95,9 bulan sebelumnya.

Penurunan itu membawa indeks sentimen ke level terendahnya sejak Januari 2017, sebulan setelah pemakzulan Presiden Park Geun-Hye.

“Pembatasan ekspor baru oleh Jepang, eskalasi konflik perdagangan AS-China, kemerosotan ekspor negara, dan penurunan harga ekuitas adalah beberapa di antara alasan memburukan sentimen rumah tangga,” terang BOK, seperti dilansir dari Bloomberg.

Indeks tersebut ditentukan dengan mensurvei 2.381 rumah tangga dari 12 Agustus hingga 19 Agustus mengenai pandangan mereka tentang sejumlah subjek termasuk pendapatan, pengeluaran, dan prospek ekonomi.

Angka di bawah 100 berarti ada lebih banyak tanggapan yang pesimistis ketimbang optimistis.

Ekonomi Korea Selatan telah terpukul oleh perang dagang AS-China, ketika meningkatnya ketidakpastian menggerus permintaan di seluruh dunia dan perusahaan menjadi semakin berhati-hati dalam memperluas investasi.

Konfrontasi perdagangan negara itu dengan Jepang, yang mengancam akan merusak produksi teknologi Korea Selatan, juga menunjukkan sedikit tanda-tanda mereda.

Sementara itu, sejumlah pembuat kebijakan Korea Selatan telah menyuarakan pesimisme meraka tentang ekonomi Negeri Ginseng.

Pekan lalu, Gubernur BOK Lee Ju-yeol mengatakan proyeksi pertumbuhan sebesar 2,2 persen yang dibuat BOK tidak akan tercapai jika penurunan ekspor dan investasi terus berlanjut.

Anggota Dewan Gubernur BOK dijadwalkan akan mengadakan pertemuan pada Jumat (29/8/2019) untuk meninjau kebijakan suku bunganya. Penurunan sentimen ini akan menjadi hal yang turut dipertimbangkan atas kebutuhan untuk melakukan pelonggaran kebijakan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

korea selatan perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top