Pertamina Tetapkan Lapangan Migas yang Pakai EOR di Blok Rokan

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu mengatakan implementasi EOR oleh Pertamina juga menjadi perhatian khusus utamanya dalam mengantisipasi alih kelola Blok Rokan.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  13:15 WIB
Pertamina Tetapkan Lapangan Migas yang Pakai EOR di Blok Rokan
Warga beristirahat di dekat monumen pompa angguk minyak tertua di daerah Minas yang masuk dalam Blok Rokan di Riau, Rabu (1/8/2018). - ANTARA/FB Anggoro

Bisnis.com, JAKARTA— PT Pertamina (Persero) mengaku telah melakukan preliminary portfolio atau screening dan penetapan prioritas lapangan migas mana saja yang akan menggunakan pendekatan pengurasan minyak tahap lanjut atau Enhanced Oil Recovery (EOR) di Blok Rokan pada 2021 mendatang.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu mengatakan implementasi EOR oleh Pertamina juga menjadi perhatian khusus utamanya dalam mengantisipasi alih kelola Blok Rokan.

“Pertamina telah melakukan preliminary portfolio untuk target lapangan-lapangan yang dapat dioptimasikan melalui kegiatan Primary, Secondary Recovery [Waterflood] dan Tertiary Recovery [Steamflood dan Chemical EOR] agar Produksi minyak dapat ditingkatkan saat alih kelola,” tuturnya dalam keterangan tertulis, Rabu (21/8/2019).

Adapun inisiatif untuk melakukan studi subsurface di beberapa lapangan akan dimulai tahun depan untuk mempercepat rencana pengembangannya dengan melakukan sinergi dengan institusi / lembaga penelitian / universitas dalam negeri.

Hasil studi ini akan menjadi dasar rencana kerja Pertamina pada awal pengelolaan Blok Rokan.

Terpisah, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan program EOR di Blok Rokan merupakan komitmen pasti Pertamina di blok migas tersebut. Terkait proses transisi, karena sebelumnya Blok Rokan menggunakan skema Cost Recovery, maka seluruh data diambil pemerintah dan diserahkan ke Pertamina.

“Jenis EOR-nya apa, tanya ke Pertamina saja. Yang jelas kalau dilihat aturannya, kalau cost recovery itu jadi milik negara [datanya],” tambah Arcandra.

Sebelumnya, Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Djoko Siswanto mengatakan bawah keputusan untuk menerapkan teknologi EOR di Blok Rokan berjalan lambat, karena hingga kini pembahasan terkait alih kelola transisi Chevron dengan Pertamina tidak kunjung selesai.

“Geregetan juga saya [soal Blok Rokan], biaya sudah keluar US$235 juta sudah berhasil di Minas. Harusnya sekarang kan sudah masa transisi langsung diterapkan injeksi bahan kimianya. Sekarang apa yang dilakukan? nothing,” ujarnya, pekan lalu.

Dia menambahkan jika nantinya Chevron melakukan EOR sebelum 2021, skema masih akan menggunakan cost recovery. Namun apabila Pertamina mengerjakan hal tersebut setelah 2021, perusahaan pelat merah itu akan menggunakan skema gross split.

“Nah, masa transisi ini mereka sudah menjajaki apa yang mesti mereka lakukan. Pertamina Hulu Rokan [anak usaha Pertamina] sudah menuju ke sana. Siapa yang bayar itu business to business. Pembahasannya cukup lama,” kata Djoko.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina, blok migas

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top