Produsen Biodiesel Ancang-Ancang Naikkan Produksi

Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia memperkirakan kebutuhan biodiesel lokal akan meningkat hingga 50 persen dengan penerapan regulasi B30 menjadi 9 juta kiloliter.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  12:06 WIB
Produsen Biodiesel Ancang-Ancang Naikkan Produksi
Ilustrasi biodiesel - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia memperkirakan kebutuhan biodiesel lokal akan meningkat hingga 50 persen dengan penerapan regulasi B30 menjadi 9 juta kiloliter. Sejumllah produsen pun berencana untuk menambah kapasitas produksi.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi) M.P. Tumanggor mengatakan kapasitas terpasang industri biodiesel lokal saat ini sebesar 11 juta kiloliter.

"Dengan demikian masih ada 2 juta kiloliter untuk ekspor," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (20/8/2019).

Tumanggor mengatakan beberapa produsen pun berencana untuk menambah kapasitas produksi guna memenuhi peningkatan permintaan. Dia memproyeksikan penambahan kapasitas tersebut akan membuat kapasitas terpasang menjadi 14 juta kiloliter pada akhir 2029.

Pemerintah telah menetapkan pemanfaatan biodiesel dalam bahan bakar nabati akan ditingkatkan dari 20% menjadi 30% (B30) di segala sektor pada awal 2020.

Managing Director Sustainability & Strategic Stakeholders Engagement PT SMART Tbk. Agus Purnomo menyatakan penerapan regulasi itu memiliki dampak tidak langsung terhadap perseroan. Perseroan memprediksi penerapan regulasi tersebut dapat menjadikan Indonesia sebagai produsen dan pasar CPO terbesar di dunia secepatnya pada 2021.

“Artinya, naik-turunnya harga nanti tergantung Indonesia. Pemerintah sedikit banyak bisa memengaruhi pasar,” ujarnya, Selasa (20/8/2019).

Agus menguraikan perseroan memiliki dua kilang pengolahan biodiesel di Marunda, DKI Jakarta dan Tarjun, Kalimantan Selatan. Masing-masing pabrik tersebut memiliki kapasitas terpasang hingga 600.000 ton per tahun atau hanya 5% dari total kapasitas terpasang industri biodiesel di dalam negeri.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan PT Pertamina (Persero) telah memiliki teknologi untuk mengubah solar menjadi avtur dengan campuran CPO. Namun demikian, penggunaan teknologi tersebut tidak daat langsung mengurangi keergantungan penggunaan avtur konvensional secara signifikan.

"Kalau teknologi sudah ada kan butuh waktu. Tidak bisa instan kan ya," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Biodiesel

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top