Jalan Berliku Produsen Kopi Lokal Menuju Pasar Global

Untuk masuk ke pasar global, sejumlah pelaku industri kopi domestik juga harus menghadapi persoalan lain. Jika kopi AAA masih berupaya memompa jalur produksi yang lebih besar, Kapal Api Group selalu menghadapi persoalan, mulai dari sengketa merek hingga sengketa warisan.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  17:31 WIB
Jalan Berliku Produsen Kopi Lokal Menuju Pasar Global
Kopi rempah - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Indonesia dianggap menjadi surga bagi komoditas kopi. Melimpahnya produksi dan permintaan domestik menjadi modal kuat bagi para pelaku usaha lokal untuk bersaing dalam skala global.

Namun demikian, tantangan berat masih dihadapi para pemain kopi dalam negeri. Misalnya saja kopi merek AAA yang diproduksi Perusahaan bernama NEFO dengan kemasan logo AAA menyerupai barisan gunung yang hanya di Jambi dan sekitarnya.

Hal berbeda dialami oleh Mayora Group yang mendistribusikan kopi dengan merek Torabika secara nasional. Bahkan Mayora mengklaim telah menguasai 50% penjualan kopi domestik dan bersaing dengan Kapal Api Group.

Pakar Teknologi Pangan Universitas Sahid Giyatmi Irianto, mengatakan rasa kopi yang khas di setiap produk yang ada di dalam negeri menghasilkan persaingan ketat bagi para pelaku industri. Kekhasan rasa di setiap produk kopi itu juga menyebabkan pemain baru sulit bertarung di industri domestik, karena produk yang ada sebelumnya telah melekat dalam ingatan masyarakat.

Menurutnya, persaingan ketat juga membuat produsen mengakalinya dengan menggunakan campuran dalam produk kopinya. Hal itu dianggap lumrah di industri pangan, seperti pembuatan saus tomat dengan campuran ketela singkong dan ubi jalar.

"Substitusi bahan pangan dilakukan dengan alasan ketersediaan dan stabilias suplai bahan baku, ataupun karena persaingan ketat di pasar," katanya, Selasa (20/8/2019).

Untuk masuk ke pasar global, sejumlah pelaku industri kopi domestik juga harus menghadapi persoalan lain. Jika kopi AAA masih berupaya memompa jalur produksi yang lebih besar, Kapal Api Group selalu menghadapi persoalan, mulai dari sengketa merek hingga sengketa warisan.

Kopi merek Kapal Api yang dinaungi PT Santos Jaya Abadi memang sering diterpa sengketa hukum. Teranyar, soal pengalihan hak merek.

Yang paling menarik perhatian public adalah gugatan dari Lenny Setyawati dan Wiwik Sundari, saudara perempuan dari bos Santos Jaya Abadi yaitu Indra Boediono, Soedomo Mergonoto, dan Singgih Gunawan.

Kasus gugatan itu disidangkan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada 2013. Hasilnya, majelis hakim yang diketuai Erri Mustianto memenangkan penggugat.

Lenny dan Wiwik kemudian merasa tak terima jika pembagian warisan Goe Soe Loet, termasuk PT Santos Jaya Abadi didasarkan pada wasiat sang Ibunda Po Guan Cuan.

Dalam wasiatnya, Po Guan Cuan mengamanatkan agar kepemilikan warisan 90% dibagi rata saudara lelaki, sedangkan para anak perempuan hanya mendapat 10%.

Dalam gugatannya, Lenny dan Wiwik merujuk kepada Pasal 852 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berlaku bagi Golongan Tionghoa yang menyebutkan hukum waris dari semua keluarga sedarah, dibagi tanpa ada perbedaan, baik itu lelaki maupun perempuan.

Sebaliknya, pihak tergugat yakni Soedomo dkk mengklaim bahwa pendirian dan pengelolaan PT Santos Jaya Abadi tidak terkait sama sekali dengan warisan Goe Soe Lot. Alhasil, berdasarkan Putusan MA Nomor 334 PK/Pdt/2017, gugatan para penggugat digugurkan.

Di sisi lain, bukti yang diajukan para penggugat seperti surat wasiat menyebutkan warisan aset Goe Soe Lot juga termasuk PT Santos Jaya Abadi. Hingga kini, sengketa yang membelit Kapal Api masih berlangsung.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi

Editor : Lili Sunardi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top