Krist Ade Sudiyono : "Perencanaan Pemerintah Harus Didasarkan Masterplan"

Group Astra serius mengembangkan bisnis di sektor infrastruktur dengan menghadirkan PT Astra Tol Nusantara untuk berbisnis tol. Dari yang semula hanya memiliki ruas tol Tangerang—Merak, kini portofolio aset tol Astra terus berkembang hingga mencapai enam ruas.
Puput Ady Sukarno & Fitri Sartina Dewi
Puput Ady Sukarno & Fitri Sartina Dewi - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  18:21 WIB
Krist Ade Sudiyono :
Kendaraan melintas di jalan tol Jombang-Mojokerto (Jomo) Desa Tampingmojo, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (21/1/2019). - ANTARA/Syaiful Arif

Bisnis.com, JAKARTA – Keseriusan Group Astra mengembangkan bisnis di sektor infrastruktur diwujudkan dengan kehadiran PT Astra Tol Nusantara untuk menjalankan bisnis tol. Dari yang semula hanya memiliki satu aset yaitu ruas tol Tangerang—Merak, kini portofolio aset tol Astra terus berkembang hingga mencapai enam ruas. Untuk menggali lebih jauh mengenai perkembangan bisnis perusahaan, Bisnis.com berkesempatan mewawancarai CEO Toll Road Business Astra Infra Group, Krist Ade Sudiyono. Berikut petikannya:

Untuk menjamin keberlangsungan usaha, bagaimana konsep modernisasi bisnis pada ruas-ruas tol yang dikelola?

Prioritas kami ke depan, selain menambah jumlah aset melalui inisiatif strategic asset development, kami mengembangkan semua portfolio existing mendasarkan capaian keunggulan operasi dan layanan. Semua unit bisnis yang kami punyai harus memberikan pelayanan yang terbaik kepada pengguna. Ini berarti, semua kriteria operasional baik teknikal maupun finansial harus berada pada level terbaik.

Kedua, kami ingin menjadi partner of choice, agar semua pihak mau bersama-sama membangun infrastruktur di Indonesia. Untuk mewujudkannya, kami harus menjadi pusat keunggulan di industri jalan tol nasional. Berbagai inovasi di bidang ke-engineering-an, layanan operasi dan pemeliharaan jalan tol, akan terus dikembangkan, didukung research & development yang kuat. Keunggulan kami terletak pada unsur orang, sistem manajemen, dan platform.

Adakah terobosan-terobosan baru terkait pelayanan yang akan dilakukan Astra Infra?

Kami bersinergi dengan pemerintah, dan teman-teman operator yang lain. Kami sedang melakukan uji coba sistem transaksi jalan tol nirsentuh tanpa berhenti [free flow].

Setelah berhasil memigrasi sistem pembayaran manual menjadi sistem pembayaran tap and go, dengan menggunakan uang elektronik, toll collection system yang baru ini diharapkan mampu mengurangi ketidaknyamanan pengguna akibat antrean yang biasa terjadi di gerbang-gerbang layanan transaksi tol.

Dari sisi layanan manajemen lalu lintas, kami sedang mengembangkan intelligence traffic management system berbasis surveillance system dengan kemampuan analitikal artificial intelligence. Dengan teknologi ini, kami bisa memonitor dan bereaksi secara cepat atas kejadian-kejadian khusus yang terjadi di jalan tol.

Hal yang sama kami lakukan di bidang pemeliharaan jalan tol. Saat ini masih dikembangkan asset management system, yang memungkinkan melakukan perencanaan pemeliharaan aset jalan tol secara komprehensif, sesuai dengan kondisi alat produksi yang ada di lapangan.

Menurut Anda, apa tantangan terbesar yang dihadapi industri ini?

Saya melihat tantangan terbesarnya dimulai di fase perencanaan proyek-proyek infrastruktur. Perencanaan pemerintah, harusnya didasarkan pada masterplan jaringan jalan tol nasional yang baku, dan tidak serta merta mengakomodasikan inisiasi-inisiasi baru yang diusulkan oleh pihak ketiga.

Saya khawatir, kalau hal ini terjadi, bukan tidak mungkin industri ini akan memberi tempat pada free-riders yang menjadikan struktur bisnis jalan tol menjadi tidak menarik bagi investasi.

Tantangan yang kedua adalah masalah pembiayaan. Semua pihak harus dilibatkan secara bersama-sama dalam pembangunan infrastruktur. Artinya, selain berbagai deregulasi perundang-undangan dan restrukturisasi kelembagaan yang sudah dilakukan, dukungan pemerintah melalui kebijakan fiskal maupun moneter harus dilakukan untuk menarik investasi ke Indonesia.

Apa mimpi besar Anda untuk Astra Infra Toll Road?

Negeri ini memerlukan banyak infrastruktur publik. Kami ingin berkontribusi dan menginspirasi kelompok usaha lain terlibat dalam pembangunan bangsa ini. Astra Infra Toll Road ingin menjadi ‘the leading private company’ dalam pembangunan infrastruktur jalan tol di Indonesia.

Di internal, kami ingin menjadi signifikan kontirbutor signifikan ke Astra Group. Kami ingin bisnis infrastruktur bisa menjadi bisnis masa depan bagi Astra. Semoga dan mohon doanya ya.

Pewawancara: Puput Ady Sukarno & Fitri Sartina Dewi

-------------------------------------------------

BIODATA

Nama: Krist Ade Sudiyono

Tempat & Tahun Lahir: Cilacap, 1968

Riwayat Pendidikan:

-Doktor Bidang Manajemen Universitas Bina Nusantara Jakarta (2017)

-Magister Manajemen Universitas Sumatera Utara (2002)

-S1 Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (1992)

Riwayat Karier:

-CEO Toll Road Business Astra Infra Group (2019—Sekarang)

-Presiden Direktur PT Marga Mandalasakti (Sekarang)

-Presiden Direktur PT Transutama Arya Sejahtera (Sekarang)

-Presiden Direktur Indonesia Network (Sekarang)

-Presiden Direktur PT Transbumi Serbaraja (2016—2018)

-Berbagai posisi strategis di Astra (2004—2018)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
astra, Astra Infra Toll Road

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top