Tren Digital Generasi Milenial, Peluang atau Bumerang?

Kemampuan generasi milenial mempromosikan destinasi wisata Indonesia bakal menjadi strategi marketing yang baik untuk mendukung pariwisata Indonesia.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 10 Agustus 2019  |  01:25 WIB
Tren Digital Generasi Milenial, Peluang atau Bumerang?
Situ Gunung, lokasi wisata di Sukabumi : Generasi milenial sangat senang dengan visualisasi, melalui gambar maupun video - Instagram/Luckyarwb_

Bisnis.com, JAKARTA--Kemampuan generasi milenial mempromosikan destinasi wisata Indonesia bakal menjadi strategi marketing yang baik untuk mendukung pariwisata Indonesia.

Namun, apa jadinya, bila destinasi tujuan wisata generasi milenial tidak sesuai dengan harapan, khususnya daerah-daerah yang digaungkan oleh pemerintah hingga ke negeri tetangga? Alih-alih berharap adanya kunjungan wisatawan baru, malah bisa menurunkan niat berwisata.

Ketua Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia Azril Azhari mengatakan, generasi milenial sangat senang dengan visualisasi, baik melalui gambar maupun video.

Sebagai contoh, lihat video objek wisata Situ Gunung Sukabumi yang dikenal dengan suspension bridge terpanjang di Jawa Barat bahkan disebut-sebut terpanjang di Asia. Luckyarwb_memberikan izin khusus kepada Bisnis.com  untuk mengunggahnya terkait berita tentang objek wisata tersebut.

Selanjutnya silakan baca : Jembatan Gantung Situ Gunung Dongkrak PNBP Gunung Gede Pangrango.

Biasanya, generasi milenial akan mendokumentasikan momen bagus dan kurang bagus melalui smartphone.

Di tengah, akrabnya kalangan milenial dengan media sosial, maka pemerintah harus serius membenahi infrastruktur pariwisata.

"Pemerintah jangan fokus kepada marketing, karena generasi milenial ini adalah marketing yang andal. Tetapi, kalau tiba di lokasi wisata dan menjadi kecewa, maka orang yang kecewa bakal menjelekkan lokasi wisata tersebut," tuturnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (9/8/2019).

Azril menjelaskan generasi milenial adalah pelajar dan pekerja muda yang sangat akrab dengan teknologi. Kelebihan yang dimiliki kalangan ini yakni mencari jenis wisata yang unik, seperti wisata bawah laut, menikmati alam, atraksi kebudayaan, jelajah alam liar dan mendaki ke gunung.

Namun yang perlu diingat bahwa, generasi milenial juga memiliki keterbatasan yakni sangat selektif terhadap biaya pengeluaran dalam perjalanan wisata. Dia mengungkapkan, pelaku pariwisata harus bisa mencari peluang di tengah keterbatasan yang dimiliki generasi milenial.

Saat dihubungi Bisnis pada Jumat (9/8/2019), Azril menuturkan, generasi milenial juga sangat menyukai produk-produk lokal dengan harga terjangkau. Biasanya, setiap produk-produk lokal yang dibeli oleh generasi milenial akan difoto dan disebarkan melalui media sosial. Dia menilai, hal ini akan menjadi baik, bila pemerintah membenahi produk-produk lokal.

Selain mencari produk-produk lokal, tambahnya, kaum milenial juga mencari makanan yang unik dan terkenal di media sosial. Keputusan untuk mengeksekusi warung makan, pembelian cenderamata biasanya akan sangat tergantung dengan review dari pelancong-pelancong sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata, generasi milenial

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top