Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal II/2019 Alami Defisit US$2 Miliar

Bank Indonesia mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II/2019 mencatatkan defisit sebesar US$2 miliar.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  10:42 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II/2019 mencatatkan defisit sebesar US$2 miliar.

Namun demikian, secara akumulatif semester I/2019, NPI mencatatkan surplus tipis sebesar US$0,4 miliar. Pada kuartal I/2019 NPI mencatatkan surplus seiring dengan defisit transaksi berjalan yang membaik dan surplus transaksi modal dan finansial yang cukup tinggi.

Surplus NPI pada kuartal I/2019 tercatat sebesar US$2,4 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko menyatakan, defisit NPI pada kuartal II/2019 dipengaruhi oleh meningkatnya defisit transaksi berjalan yang tidak mampu sepenuhnya dibiayai oleh surplus neraca transaksi modal dan finansial.

Meski defisit, menurutnya, realisasi NPI kuartal II/2019 menunjukkan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap terjaga, di tengah kondisi global yang kurang kondusif dan perilaku musiman domestik.

"NPI kuartal II/2019 tetap baik. Kondisi ini ditopang surplus neraca transaksi modal dan finansial yang berlanjut. Kondisi ini sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian Indonesia," kata Onny melalui siaran pers , Jumat (9/8/2019).

Sementara itu, defisit neraca transaksi berjalan meningkat dari US$7,0 miliar atau 2,6% dari PDB pada kuartal sebelumnya menjadi US$8,4 miliar atau 3,0% dari PDB. Ini dipengaruhi perilaku musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri, serta dampak pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat dan harga komoditas yang turun.

"Dengan perkembangan tersebut, meskipun pada kuartal II/2019 mengalami defisit US$2,0 miliar, NPI sampai dengan semester I/2019 tetap mencatat surplus sebesar US$0,4 miliar," paparnya.

Perkembangan ini, kata Onny, ditopang surplus neraca transaksi modal dan finansial yang tinggi, serta defisit neraca transaksi berjalan yang terkendali dalam batas aman yaitu 2,8% dari PDB.

Sementara itu, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2019 tercatat sebesar US$123,8 miliar, setara dengan pembiayaan 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

Ke depan, Onny memprakirakan NPI tetap baik sehingga dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal.

Prospek NPI tersebut didukung defisit transaksi berjalan 2019 yang diprakirakan lebih rendah dari 2018, yaitu dalam kisaran 2,5%-3,0% PDB.

Selain itu prospek aliran masuk modal asing juga tetap besar didorong persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi Indonesia yang tetap terjaga.

"Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal, termasuk berupaya mendorong peningkatan Penanaman Modal Asing [PMA]," jelas Onny.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
neraca pembayaran indonesia

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top