Pengolahan Sampah Plastik Jadi Campuran Aspal Lebih Menguntungkan

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyatakan pengelolaan kantong plastik sebagai campuran aspal akan lebih menguntungkan ketimbang pelarangan penggunaan kantong plastik.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  14:40 WIB
Pengolahan Sampah Plastik Jadi Campuran Aspal Lebih Menguntungkan
Pekerja menyelesaikan proses pengaspalan dengan aspal plastik. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyatakan pengelolaan kantong plastik sebagai campuran aspal akan lebih menguntungkan ketimbang pelarangan penggunaan kantong plastik.

Direktur Inaplas Edi Rivai mengatakan dengan mencampurkan kantong plastik sebanyak 5% dari volume aspal, daya tahan aspal tersebut akan meningkat hingga 40%. “Tempat yang kita pilih [untuk menggunakan] aspal itu dilalui oleh alat-alat berat,” ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.

Edi menyampaikan target pemerintah untuk mengurangi 70% dari total sampah plastik tidak akan terealisasi tanpa adanya pemilahan sampah yang masif secara nasional. “Solusinya bukan pelarangan, tetapi pengelolaan.”

Di sisi lain, Edi mengatakan para pelaku industri daur ulang plastik memandang kantong plastik tidak atraktif untuk didaur ulang karena ketebalan kantong plastik yang rendah dan penambahan aditif.

Dia memberi contoh penerapan standar ketebalan plastik di negara berkembang di sekitar 36 mikron sehingga lebih mudah dipisahkan dari sampah organik. “Kalau di Indonesia tidak, 10—18 mikron. Jadi, tidak menarik untuk diambil.”

Kemudian, mulai marak bermunculan kantong plastik ramah lingkungan yang menggunakan aditif oxo-biodegradablle atau aditif lainnya. Alhasil, kandungan plastik pada kantong plastik berkurang.

Sementara itu, Pembina Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) Agus Hartono mengatakan target pemerintah dalam pengelolaan sampah plastik pada tahun 2025 tidak akan tercapai. Menurutnya, pengelolaan sampah plastik hingga 70% paling cepat akan terealisasi pada 2039.

“Kalau edukasi ke anak-anak jalan [tentang pengelolaan sampah] dan waste management jalan seharusnya —saya berharap— tidak 20 tahun, secepat mungkin,” ujarnya kepada Bisnis.

Ketua Adupi Christine Halim mengatakan pemerintah belum serius dalam mengelola sampah plastik domestik. Menurutnya, hal tersebut ditunjukkan oleh perilaku pemerintah daerah yang enggan utnuk memberikan tipping fee dalam pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

“Kembali lagi, kita harus menyamakan persepsi dan mengakui bahwa yang jadi masalah adalah waste management,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Sampah Plastik

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top