Sanggupkah Harbolnas dan Natal Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi?

Realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II/2019 yang kurang menggairahkan yakni 5,05% (y-o-y) masih berharap pada konsumsi hari belanja online nasional dan Natal.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  15:49 WIB
Sanggupkah Harbolnas dan Natal Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi?
Konsumen memilih produk di salah satu situs berjualan online saat program 12.12 di Kerten, Laweyan, Solo, Rabu (12/12). Sejumlah situs berjualan online menawarkan beragam menarik seperti diskon, gratis biaya pengiriman, dan flash sale untuk memeriahkan Hari Belanja Online Nasional. - JIBI/M. Ferri Setiawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II/2019 yang kurang menggairahkan yakni 5,05% (y-o-y) masih berharap pada konsumsi hari belanja online nasional dan Natal.

Meski berada pada waktu peak season yakni Lebaran, pencatatan pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup meresahkan.

Menurut Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto kondisi ini jelas melambat dari kuartal sebelummya dan melambat dari tahun lalu. Maka untuk mencapai target ambisius 5,3% tahun ini menjadi tidak realistis.

"Indef tahun lalu sudah memproyeksikan 5%. Namun masih ada peluang tumbuh 5,1% dan ini butuh kerja keras dua kuartal lagi," papar Eko di Aryaduta Hotel, Rabu (7/8/2019).

Menurut Eko, secara rata-rata saja semester I/2019 pertumbuhan ekonomi hanya 5,08%. Momen Lebaran yang diharapkan menggeliatkan ekonomi ternyata kalah dengan pukulan neraca ekspor dan impor akibat perang dagang.

"Masih ada momentum lain untuk optimisme ekonomi. Ada harbolnas [Hari Belanja Online Nasional], Natal, dan libur akhir tahun," terangnya.

Selain berharap pada momen Harbolnas dan Natal, Eko juga menyatakan masih ada harapan optimisme yang bersumber dari kabinet yang baru. Dia berharap kabinet bentukan Jokowi-Maruf Amin juga harus merefleksikan optimisme dalam ekonomi.

"Ke depan tantangan inflasi juga perlu diwaspadai. Apalagi inflasi bahan pangan di desa juga meningkat," terang Eko.

Eko menegaskan bahwa kalau tak ada momentum maka sulit pemerintah mendorong investasi dan ekspor. Apalagi dengan prakiraan pada kuartal III dan IV polanya adalah penurunan.

Asal tahu saja, Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia Juni 2019 mencerminkan penurunan seiring dengan pola konsumsi masyarakat menurun pasca Ramadan dan Idulfitri.

Pasalnya, Indeks Penjualan Riil atau IPR Juni adalah 1,8% (y-o-y), dari IPR bulan sebelumnya yang tumbuh 7,7% (y-o-y).

Penurunan kinerja terdalam adalah kelompok bahan bakar kendaraan bermotor turun 10,9% dan kelompok barang budaya dan rekreasi 8,8%.

Secara regional, IPR yang mengalami penurunan pada Juni 2019 adalah Semarang yakni -12,4% (y-o-y), Medan -12,2% (y-o-y), dan Bandung -8,3% (y-o-y).

Adapun daerah yang IPR Juni 2019 mengalami kenaikan adalah Banjarmasin sebesar 35,1% (y-o-y), Makassar sebesar 29,1% (y-o-y), dan Jakarta 19,1% (y-o-y).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top