Indonesia Power Berharap PLTD Senayan 100 MW Tak Perlu Dioperasikan

PT Indonesia Power berharap pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Senayan berkapasitas 100 megawatt (MW) yang pembangunannya akan segera rampung tidak perlu dioperasikan.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  13:58 WIB
Indonesia Power Berharap PLTD Senayan 100 MW Tak Perlu Dioperasikan
Petugas PLN sedang mengecek kesiapan operasi PLTD Senayan, Kamis (8/8/2019). - Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, JAKARTA PT Indonesia Power berharap pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Senayan berkapasitas 100 megawatt (MW) yang pembangunannya akan segera rampung tidak perlu dioperasikan.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Indonesia Power M. Ahsin Sidqi mengatakan PLTD Senayan menjadi penyokong daya khusus moda raya terpadu (MRT). Pembangkit tersebut hanya dibutuhkan saat terjadinya listrik padam (blackout) atau beban sedang tinggi saja. 

"Saat ini sedang konstruksi [PLTD Senayan], paling lambat saat hari listrik nasional kita jalankan [27 Oktober 2019]. Ini jadi persembahan untuk Jakarta agar aman," katanya di PLTD Senayan, Kamis (8/8/2019). 

General Unit Proyek Indonesia Power IGN Agung S memastikan pembangkit tersebut hanya akan beroperasi apabila dibutuhkan. Pembangkit tersebut terbagi atas dua blok yang masing-masing memiliki tiga unit pembangkitan. Artinya, ada total enam mesin pembangkit di PLTD Senayan dengan kapasitas 17,5 MW. 

PLTD Senayan dibangun dengan meneruskan mengonstruksi ulang pembangkit sebelumnya yang telah dibangun pada zaman pemerintahan Presiden Soekarno. Setidaknya dibutuhkan waktu 15 bulan untuk membangun pembangkit ini yang dimulai dari Juli 2018 dan ditargetkan selesai pada Oktober 2019. 

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat Haryanto WS mengatakan dengan kebutuhan listrik maksimal MRT Jakarta yang sebesar 60 MW, PLTD Senayan akan cukup andal dalam menyokong kebutuhan daya transportasi tersebut. Tidak hanya itu, PLTD Senayan juga diyakini akan mencukupi kebutuhan listrik MRT Jakarta tahap II yang sedang dibangun. 

Adapun selama ini, kebutuhan listrik MRT Jakarta hanya disuplai dari dua sistem, yakni Unit Pusat Pengatur Beban (UP2B) Gandul dan Gardu Induk Priok. Ketika blackout atau listrik padam terjadi, kedua sistem kelistrikan tersebut sama sekali tidak dapat memasok listrik ke MRT Jakarta. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indonesia power, mrt

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top