Jaga Daya Saing Global, Industri Mamin Dituntut Inovatif

Pelaku industri makanan dan minuman di Indonesia terus memacu inovasi guna menghadapi kompetisi industri global yang menuntut produk lebih murah dengan kualitas semakin tinggi.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  15:09 WIB
Jaga Daya Saing Global, Industri Mamin Dituntut Inovatif
Pekerja menyusun aneka jenis minuman kaleng di salah satu grosir penjual makanan dan minuman kemasan di Pekanbaru, Riau, Senin (12/6). - Antara/Rony Muharrman

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia terus memacu inovasi guna menghadapi kompetisi industri global yang menuntut produk lebih murah dengan kualitas semakin tinggi.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan penerapan beleid pengurangan pajak super yang baik, dapat mengurangi biaya produksi hingga 15%-20%. Hal tersebut bisa terjadi karena insentif pada bidang penelitian dan inovasi.

“Menggantikan BTP [bahan tambahan pangan] dengan lainnya bisa mengurang biaya produksi sampai 20%, tapi dengan mutu yang lebih bagus dan biaya yang lebih murah,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini.

Menurutnya, pemerintah harus menentukan persyaratan pemberian insentif tersebut secara jelas dan cepat. Adapun, untuk mempercepat pemberian insentif tersebut, pemerintah dapat membuat skema yang menghubungkan beberapa kewajiban yang harus dilakukan pelaku dengan besaran dan periode insentif yang diberikan.

Dia berharap pemerintah juga menerapkan disinsentif yang besar bagi pelaku usaha yang melanggar. Adhi menyarankan agar beleid tersebut juga diikuti dengan bauran aturan pendukung lainnya untuk mengakselerasi produksi.

“Jangan sampai inovasi cepat terus daftar di [Badan Pengawas Obat dan Makanan mengenai] BTP lama. Ini juga harus sinkron.”

Sementara itu, Gapmmi menyatakan sekitar 50% dari anggotanya telah bermitra dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) pada semester I/2019. Adhi mengklaim per anggota telah bekerja sama dengan 5 SMK hingga 10 SMK, sedangkan industri mamin besar mampu bekerja sama dengan 50 SMK.

Selain mengurangi biaya produksi, Adhi mengatakan industri mamin dapat dengan mudah menyerap tenaga kerja berkualitas dari hasil program kemitraan tersebut. Pasalnya, peserta program kemitraan akan mendapatkan sertifikat sesuai dengan tingkat keahlian berdasarkan hasil uji kompetensi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri mamin

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top