Tren Kapal Berukuran Jumbo, Ini yang Dilakukan Operator Terminal Peti Kemas

Asosiasi Pengelola Terminal Peti Kemas Indonesia berkomitmen memperbaiki fasilitas terminal untuk ikut menumbuhkan ekspor Indonesia yang tertekan sentimen perang dagang. 
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  08:32 WIB
Tren Kapal Berukuran Jumbo, Ini yang Dilakukan Operator Terminal Peti Kemas
Petugas memantau pemindahan kontainer ke atas kapal di New Priok Container Terminal One (NPCT 1), Jakarta, Senin (12/3/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Asosiasi Pengelola Terminal Peti Kemas Indonesia berkomitmen memperbaiki fasilitas terminal untuk ikut menumbuhkan ekspor Indonesia yang tertekan sentimen perang dagang. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengelola Terminal Peti Kemas Indonesia (APTPI) Yos Nugroho mengatakan bahwa terminal peti kemas harus menyesuaikan diri dengan tren ukuran kapal peti kemas yang kian besar. Untuk mencapai skala keekonomian, perusahaan-perusahaan pelayaran internasional beraliansi untuk mengonsolidasi kargo agar dapat diangkut sekaligus menggunakan kapal jumbo. 

Maka, muncullah tiga aliansi besar shipping line global, yakni Alliance, Ocean Alliance, dan 2M. 

Menurutnya, kedalaman alur dan kolam harus memadai untuk disandari kapal besar. Demikian juga dengan peralatan yang dimiliki, harus memiliki daya jangkau dan produktivitas yang tinggi. 


"Terminal peti kemas harus berkembang mengikuti zaman. Makin besar kapal, pelabuhan harus mempunyai kedalaman yang mencukupi untuk dikunjungi kapal, lalu mempunyai peralatan yang mencukupi untuk meng-handle kapal-kapal yang makin lama makin besar," ujarnya, Senin (29/7/2019).

Sayangnya, masih ada kesenjangan fasilitas di antara terminal-terminal peti kemas di Indonesia sehingga upaya untuk ikut mendorong ekspor tidak optimal.

Bendahara APTPI Riza Erivan menegaskan posisi Pelabuhan Tanjung Priok masih dominan. Hanya Tanjung Priok yang mampu melayani kapal-kapal besar, sementara keterbatasan peralatan dan tingkat kedalaman kolam membuat Tanjung Emas dan Tanjung Perak belum dapat disandari kapal-kapal sebesar kapal di Tanjung Priok. 

"Banyak terminal di luar Tanjung priok yang harus lebih efisien, dari segi alat dan kedalaman terminal," ujarnya.

Yos juga menambahkan, persaingan tidak hanya di antara terminal peti kemas di dalam negeri. Kompetisi juga berlangsung di taraf global. Terminal-terminal peti kemas Indonesia berhadapan dengan terminal kontainer di negara tetangga. Kapasitas terminal akan sangat menentukan ke negara mana kapal-kapal besar singgah. Posisi ini amat menentukan ke mana investasi mengalir. 

"Terminal di luar negeri itu besar. Dengan sendirinya kapal juga makin besar. Dengan sendirinya investor melihat mereka bisa investasi di Vietnam, Thailand, karena memang kapasitasnya sudah besar. Untuk menghadapi persaingan global, kita harus bersiap," ujarnya.

APTPI beranggotakan lima terminal peti kemas yakni PT Jakarta International Container Terminal (JICT), KSO Terminal Peti Kemas Koja (TPK Koja), PT Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS), PT Mustika Alam Lestari (MAL), dan PT New Priok Container Terminal One (NPCT 1).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pelabuhan tanjung priok, jict

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top