Industri Manufaktur Perlu Tangkap Peluang Investasi China

Peluang relokasi pabrik manufaktur dari China ke Indonesia lantaran perang dagang dengan AS, harus dimaksimalkan Pemerintah Indonesia.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  19:17 WIB
Industri Manufaktur Perlu Tangkap Peluang Investasi China
ilustrasi industri manufaktur - Foto SHP Toys

Bisnis.com, JAKARTA — Peluang relokasi pabrik manufaktur dari China ke Indonesia lantaran perang dagang dengan AS, harus dimaksimalkan Pemerintah Indonesia. Apalagi, industri pengolahan menjadi penyerap lapangan pekerjaan formal terbesar.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) di sektor industri pengolahan sepanjang semester I/2019 senilai Rp104,6 triliun. Apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, nilai ini turun 13,98% dari Rp121,6 triliun.

Mohammad Faisal, Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, mengatakan secara keseluruhan investasi di Indonesia meningkat pada semester I tahun ini. Namun, peningkatan tersebut bukan berasal dari sektor manufaktur, melainkan sektor jasa yang menjadi penyumbang utama.

Hal ini justru menjadi tantangan yang besar karena penyerapan tenaga kerja di sektor jasa rendah dan membutuhkan keahlian yang khusus. Sementara itu, salah satu visi pemerintah ke depan adalah menarik investasi sebesar-besarnya untuk menciptakan lapangan kerja. Sektor manufakturlah yang menjadi penyedia tenaga kerja formal terbesar.

“Saya pikir ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah, jika ingin menciptakan lapangan pekerjaan kuncinya di sektor manufaktur. Tren realisasi investasi saat ini belum banyak berubah walaupun sebetulnya peluang relokasi industri dari China bisa diambil,” ujarnya seusai paparan Midyear Review 2019 di Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Beberapa investasi dari China memang telah masuk ke Indonesia dalam eskalasi perang dagang antara negara ini dengan Amerika Serikat, tetapi Faisal menilai untuk mengubah tren realisasi investasi dan pertumbuhan sektor manufaktur peluang yang ada harus diambil secara optimal.

Dia berpendapat minat para pelaku usaha di China untuk pindah ke negara lain, terutama di kawasan Asia Tenggara, demi menghindari tambahan tarif, menjadi faktor keburuntungan dalam menarik investasi.

Terlebih lagi, saat ini Vietnam sudah mulai jenuh untuk berinvestasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri manufaktur

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top