Usai Pilpres 2019, Pelaku Usaha Indonesia Optimistis Naikkan Harga

Grant Thornton mengungkapkan bahwa pelaku bisnis di Indonesia memiliki ekspektasi tertinggi di dunia untuk menaikkan harga produk/jasanya, menunjukkan optimisme yang kuat terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  22:00 WIB
Usai Pilpres 2019, Pelaku Usaha Indonesia Optimistis Naikkan Harga
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Grant Thornton mengungkapkan bahwa pelaku bisnis di Indonesia memiliki ekspektasi tertinggi di dunia untuk menaikkan harga produk/jasanya, menunjukkan optimisme yang kuat terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang.

Laporan hasil riset terbaru 35 negara yang dilakukan Grant Thornton untuk periode semester pertama 2019 bertajuk International Business Report (IBR), mengungkapkan sejumlah beberapa hasil menarik terkait tren pelaku bisnis global, termasuk Indonesia.

“Pelaku bisnis Indonesia tercatat memiliki harapan tertinggi di dunia untuk menaikkan harga produk/jasanya,” demikian Grant Thornton dalam keterangan pers yang diterima Bisnis, Senin (29/7).

Berdasarkan laporan itu, sekitar 69% pelaku usaha di Indonesia berharap melakukan kenaikan harga jual pada tahun mendatang, hasil ini naik cukup signifikan dibandingkan periode survei sebelumnya di semester II 2018 yang berada di level 55%.

Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia, mengatakan bahwa selepas perhelatan Pilpres 2019, tampaknya pelaku usaha mulai menunjukkan sinyal positif dalam dunia usaha. Sebagai perbandingan level rata-rata Asean berada di 45% dan Global jauh lebih rendah yaitu 32%.

Keyakinan terhadap kondisi ekonomi Indonesia ke depannya juga tampak dari hasil survei lainnya, yang mana 79% pelaku usaha Indonesia berharap memperoleh pendapatan lebih tinggi dalam 12 bulan ke depan. Level tersebut melejit dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 62% dan masih jauh di atas rata-rata Asean di 54% dan pelaku usaha global yang berada di level 35%.

Secara umum, optimisme bisnis pelaku usaha Indonesia berada di urutan ke-3 dunia pada periode survei kali ini dengan level optimisme di 66% membuntuti Filipina dan Vietnam yang berada di posisi pertama dan kedua.

Grant Thornton International Business Report (IBR) adalah survei terhadap perusahaan terbuka maupun perseorangan sejak 1992. Survei IBR dilakukan dengan kuesioner dan wawancara dengan lebih dari 5.000 responden di jenjang eksekutif, managing director, chairman atau eksekutif senior lainnya dari semua sektor industri yang dilakukan pada periode semester I 2019.

Johanna menjelaskan, meskipun Asean menunjukkan optimisme bisnis yang baik, secara global pelaku usaha kembali mencatat penurunan terkait rata-rata optimisme bisnis dalam setahun ke depan. Optimisme global hanya berada di level 32%, turun dari periode survei sebelumnya yang berada di 39%. Bahkan level optimisme ini merupakan yang terendah sejak 2016.

Ketidakpastian ekonomi masih diidentifikasi pelaku usaha sebagai kendala. Meningkatnya ketidakpastian menggerakkan kekhawatiran terhadap kurangnya permintaan di waktu yang akan datang.

Dengan melemahnya permintaan, pelaku usaha tampaknya mulai fokus pada rencana investasi berkualitas, seperti investasi R&D yang lebih sehat dan rencana investasi teknologi yang kuat. Buktinya, 45% pelaku usaha global bersiap menaikkan anggaran R&D mereka dalam 12 bulan ke depan. Hal tersebut juga sangat relevan dengan apa yang terjadi di pasar negara berkembang.

Johanna mengatakan, pemeringkatan IBR pada tahun ini cukup konsisten dengan pandangan secara makro, yang mana pelaku usaha di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, India, Filipina dan Vietnam secara konsisten menunjukkan kecenderungan lebih tinggi untuk investasi secara fisik, R&D, dan teknologi.

“Ekonomi pasar negara berkembang yang tumbuh cepat ditandai oleh akumulasi modal yang cepat dan produktivitas faktor total (total productivity factor/TFP) yang kuat, yang mana R&D dan inovasi memiliki peranan yang sangat penting untuk pertumbuhan TFP,” ujar Johanna.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet, harga cpo

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top