Zakat, Sukuk, Sedekah Jadi Potensi Utama bagi Impact Investing

Zakat dan wakaf, green sukuk, koperasi syariah, hingga sedekah dipandang sebagai bentuk-bentuk potensial pembiayaan syariah dalam rangka impact investing atau investasi berkelanjutan.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  22:53 WIB
Zakat, Sukuk, Sedekah Jadi Potensi Utama bagi Impact Investing
Badan Amil Zakat Nasional - Istimewa

Bisnis.com, SURABAYA - Zakat dan wakaf, green sukuk, koperasi syariah, hingga sedekah dipandang sebagai bentuk-bentuk potensial pembiayaan syariah dalam rangka impact investing atau investasi berkelanjutan.

President International Center of Education in Islamic Finance (INCEIF) Dato Azmi Omar memaparkan bahwa impact investing dan pembiayaan syariah saling melengkapi antara satu dengan yang lain.

"Beberapa persamaan tersebut antara lain bahwa keduanya menghubungkan antara kegiatan bisnis dan kegiatan sosial kemasyarakatan, mempunyai tujuan untuk menyejahterakan masyarakat, serta mempromosikan keuangan inklusif,” ujar Dato dalam Annual Islamic Finance Conference (AIFC) keempat yang diselenggarakan di Surabaya, Rabu (24/7/2019).

Potensi pembiayaan syariah melalui zakat dan wakaf sangat besar, akan tetapi zakat dan wakaf sebagai instrumen pembiayaan tidak tercatat secara resmi karena dilakukan langsung antar individu.

Adapun impact investing diperkirakan baru mencapai US$502 miliar, baru 17% dari pasar keuangan syariah dunia yang mencapai US$3 triliun.

Di lain pihak, Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Dwi Irianti Hadiningdyah green sukuk yang diinisiasi pertama kali oleh pemerintah pada 2018 nilai transaksinya mencapai US$1,25 miliar dan US$750 juta pada 2019.

Berdasarkan 1st Green Sukuk Report yang dirilis Februari 2019, green sukuk pertama telah berhasil membiayai 23 green project, 727 km pembangunan rel kereta api ganda, 121 unit solar, mini-hydro dan micro-hydro power plants, serta 3,4 juta keluarga yang memperoleh manfaat dari proyek manajemen sampah rumah tangga.

Green sukuk yang dikeluarkan oleh Indonesia pun mendapatkan pengakuan dan memperoleh penghargaan dari dunia internasional.

"Sampai dengan 2030 Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi lingkungan sebesar 29% sampai dengan 41%, termasuk berusaha untuk memperbaiki ketahanan iklim Indonesia," kata Dwi, Rabu (24/7/2019).

Selanjutnya, Pendiri Blossom Finance Matthew Martin mengatakan koperasi syariah memiliki peran dalam rangka mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs).

Namun, di satu sisi koperasisyariah masih memiliki masalah likuiditas musiman karena investornya cenderung menarik uang dalam momen-momen tertentu.

Oleh karena itu, sukuk bisa masuk untuk berkontribusi dalam rangka membiayai koperasi syariah.

Terakhir, Pakar Karim Consulting Indonesia Adiwarman Azwar Karim mengatakan selisih pembiayaan proyek pemerintah dapat ditutup melalui sedekah.

Dalam rangka menarik minat masyarakat dalam bersedekah, pemerintah perlu mengembangkan insentif fikal dan modal awal yang memberi sinyal bahwa proyek tersebut bakal bermanfaat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi syariah, zakat, sedekah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top