Ini Saran Para Eksportir untuk Perbaiki Kinerja Perdagangan RI

Pelaku industri komoditas andalan ekspor Indonesia ramai-ramai 'putar otak' untuk memperbaiki kinerja ekspor nonmigas Indonesia.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  08:38 WIB
Ini Saran Para Eksportir untuk Perbaiki Kinerja Perdagangan RI
KM Gunung tengah melakukan bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok. Kapal buatan galangan Meyer Werft, Jerman ini bisa mengangkut 98 TEUs kontainer di samping mengangkut penumpang. JIBI - Rivki Maulana

Bisnis.com, JAKARTA -- Pelaku industri komoditas andalan ekspor Indonesia ramai-ramai 'putar otak' untuk memperbaiki kinerja ekspor nonmigas Indonesia.

Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, penurunan nilai ekspor batu bara sepanjang tahun ini disebabkan oleh anjloknya harga komoditas itu. Pasalnya, dunia saat ini sedang menghadapi kelebihan pasokan batu bara.

“Langkah yang bisa ditempuh saat ini, pemerintah jangan mengobral dahulu produksi batu bara nasional, supaya over supply yang terjadi saat ini tidak berlanjut. Kedua, pemerintah juga harus evaluasi kebijakan seperti wajib asuransi ekspor nasional dan devisa hasil ekspor. Jangan-jangan kebijakan itu bisa menjadi beban tambahan bagi eksportir kita ke depannya,” katanya kepada Bisnis.com, Senin (15/7/2019).

Dia juga mengatakan, saat ini, terjadi persaingan ketat antara batu bara produksi Indonesia dengan dari negara pesaing lain, di  negara tujuan ekspor batu bara Indonesia. Negara tujuan ekspor tersebut a.l. China, Jepang, Korea Selatan dan India.

“Untuk itu, perlu lobi-lobi dagang dari pemerintah kita di negara mitra, supaya ekspor batu bara kita di negara pelanggan utama terjaga permintaanya. Sebab selama ini, jarang kami dengar pemerintah memasukkan batu bara sebagai obyek diplomasi dagang,” katanya.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Laksmi mengatakan, pemerintah harus lebih agresif dalam melakukan perlindungan terhadap pembatasan ekspor CPO di negara mitra. Hal itu diharapkan membantu volume ekspor CPO tetap tumbuh kendati secara nilai masih mengalami tekanan dari sisi harga di pasar global.

“Upaya lain adalah memaksimalkan penyerapan dalam negeri melalui B30. Sebab selain bisa membantu memperbaiki harga di pasar global, defisit neraca perdagangan akibat migas dapat tereduksi dengan meningkatnya konsumsi biodiesel menggantikan migas,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan, kinerja ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia dapat terkerek apabila pemerintah segera merealisasikan pakta perdagangan bebas dengan sejumlah negara. Dalam hal ini dia merujuk kepada Indonesia-Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), untuk mendongkrak ekspor produk tersebut.

“Pakta dagang, akan menjadi solusi agar produk kita diterima lebih banyak di negara mitra. Sebab negara pesaing kita seperti Vietnam sudah berhasil mengakses negara tujuan ekspor penting seperti Uni Eropa,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan Kasan Muhri mengakui, kinerja ekspor Indonesia masih membutuhkan daya dorong tambahan untuk bangkit di semester II/2019.

Untuk itu, menurutnya, pemerintah akan berupaya bekerja sama dengan pelaku usaha untuk memanfatkan celah pasar di Amerika Serikat yang ditinggalkan produk China karena perang dagang. 

“Momentum perang dagang ini dapat kita manfaatkan secara jangka pendek dengan cara meningkatka utilisasi kapasitas produksi dari  produk-produk yang memiliki tingkat similarity paling dekat dengan produk China yang selama ini diekspor ke AS seperti garmen, sepatu,  perhiasan, produk besi baja, dan furnitur,” ujarnya.  

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, total ekspor Januari--Juni 2019 mencapai US$80,32 miliar atau turun 8,57% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, untuk kinerja ekspor nonmigas semester I/2019 turun 6,54% dari periode yang sama tahun lalu dengan mencapai US$74,21 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top