Sempat Tertunda 3 Tahun, PLTA Rajamandala 47 MW Kini Beroperasi Komersial

PLTA Rajamandala ditarget beroperasi komersial atau melakukan commercial operation date (COD) pada 2017. Pengerjaan ditunda karena pada 2016 ada kondisi tanah tidak stabil yang menyebabkan keretakan pada konstruksi.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 12 Juli 2019  |  16:59 WIB
Sempat Tertunda 3 Tahun, PLTA Rajamandala 47 MW Kini Beroperasi Komersial
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, CIANJUR - PT PLN (Persero) mengelar ceremony commercial operation pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Rajamandala berkapasitas 47 megawatt (MW) setelah target pengoperasiannya sempat ditunda tiga tahun lantaran adanya beberapa masalah pada lokasi proyek berupa kestabilan tanah.

Sebelumnya, PLTA Rajamandala ditarget beroperasi komersial atau melakukan commercial operation date (COD) pada 2017. Pengerjaan ditunda karena pada 2016 ada kondisi tanah tidak stabil yang menyebabkan keretakan pada konstruksi. Keadaan tersebut membuat pendanaan proyek dihentikan sementara sembari menunggu rencana mitigasi.

Setelah melakukan perbaikan desain dan penerapan teknologi untuk mengatasi kondisi tersebut serta adanya izin pelaksanaan proyek dari PLN, pengerjaan konstruksi kembali dilakukan dan akhirnya rampung pada 2019.

Adapun PLTA Rajamandala berlokasi di Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, tepatnya pada downstream PLTA Saguling.

Pada 11 Mei 2019, PLTA tersebut telah melaksanakan Nett Dependable Capacity (NDC) Test dan Reliability Run (RR) Test selama 3x24jam dari rangkaian Commissioning Test.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Indonesia Power M. Ahsin Sidqi mengatakan PLTA Rajamandala 47 MW merupakan program pembangunan pembangkit EBT sesuai dengan Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) PLN tahun 2019-2028, beroperasi sejak 12 Mei 2019.

Dengan total nilai investasi sebesar US$150 juta, pembangunan PLTA ini membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun sejak 2012 melalui kerja sama antara Anak Perusahaan PLN yaitu Indonesia Power (IP) dengan Kansai Electric Power Corp Japan (KEPCO) menjadi PT Rajamandala Electric Power.

PLTA Rajamandala memanfaatkan aliran sungai Citarum yang merupakan keluaran dari PLTA Saguling. PLTA ini tidak memerlukan pembangunan waduk atau bisa disebut dengan kategori PLTA run-of-river.

“PLN dan Indonesia Power sangat welcome dan komit dengan penggunaan Renewable Energy dan pengembangan komunitas, maka kami yakin jika Indonesia Power akan menjadi leading dalam bidang Renewable Energy," kata Ahsin, Jumat (12/7/2019).

PLTA Rajamandala ditarget memperkuat sistem interkoneksi kelistrikan Jawa - Bali melalui transmisi 150 kV (kilo Volt) Cianjur-Cigereleng sekaligus sebagai backup system kelistrikan khususnya di wilayah Kabupaten Bandung.

PLTA Rajamandala menjadi PLTA yang menggunakan Penstock terbesar di Indonesia dan Spiral Case berbahan beton pertama di Indonesia. Selain itu juga merupakan PLTA dengan waterway sistem labirin pertama di Indonesia dengan diameter terowongan terbesar di Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN, plta

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top