Melesetnya Produksi Beras Tahun Ini Dinilai Tidak Terlalu Signifikan

Produksi beras pada tahun ini kemungkinan meleset dari perkiraan karena kekeringan yang melanda sejumlah daerah. Namun, selisihnya dinilai tidak akan terlalu signifikan.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  08:36 WIB
Melesetnya Produksi Beras Tahun Ini Dinilai Tidak Terlalu Signifikan
Pekerja mengangkut stok beras Bulog untuk didistribusikan ke pasar-pasar di Gudang Sub-Divre Bulog Serang, di Serang, Banten, baru-baru ini. - ANTARA/Asep Fathulrahman

BIsnis.com, JAKARTA--Produksi beras pada tahun ini kemungkinan meleset dari perkiraan karena kekeringan yang melanda sejumlah daerah.

Akademisi Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Husein Sawit menilai ada potensi melesetnya perkiraan produksi beras tahun ini meskipun tidak akan terlalu besar karena musim kering terjadi di kala panen gadu. Potensi daerah terkena puso juga berpeluang melebar menyusul masih panjangnya proyeksi musim kemarau. 

Kendati demikian, dia optimistis bahwa kebutuhan beras masih akan terpenuhi lantaran tingginya stok beras yang ada di gudang Perum Bulog. Di sisi lain, upaya mitigasi kekeringan perlu dibarengi dengan prediksi terperinci terkait kecukupan air, khususnya di sentra-sentra produsen bahan pokok seperti beras. 

“Bukan sekadar banyaknya embung, banyaknya pompa air tetapi sumber sumber air itu ada di mana, berapa banyak, berapa luas yang bisa di-cover oleh air yang ada itu, berapa lama. Itu kan juga harus dilihat lebih detail,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Senin (8/7/2019) malam.

Prediksi kecukupan air tersebut, menurut Husein, bisa menjadi titik awal terkait langkah berikutnya yang bisa diambil pemerintah. Untuk daerah-daerah yang memang sudah tidak memungkinkan untuk menanam padi tetapi masih memiliki cadangan air yang cukup untuk kebutuhan primer penduduk, seperti air minum serta kemungkinan pemanfaatan untuk tanaman yang membutuhkan sedikit air, bantuan bibit seperti yang dicanangkan Kementerian Pertanian, khususnya jagung, menurutnya bisa menjadi solusi. 

Namun, katanya, pemerintah juga harus mempertimbangkan potensi penolakan dari para petani, baik karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan terkait budi daya jagung atau kedelai, maupun karena kurang cocoknya komoditas tersebut di sejumlah tempat tertentu.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas mengatakan produksi beras dalam negeri diperkirakan menurun dari sekitar 32 juta ton tahun lalu menjadi sekitar 30 juta ton tahun ini yang disebabkan kekeringan, pergeseran masa tanam, dan serangan hama tikus yang terjadi di beberapa daerah pada musim tanam kedua tahun ini.

Sejumlah daerah yang saat ini tengah dilanda kekeringan antara lain Indramayu, Lamongan, dan sebagian daerah di Jawa Tengah. Menurut Andreas, potensi penurunan produksi mencapai 38 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Beras, pertanian

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top