Penang Perkuat Posisi Malaysia Sebagai Destinasi Favorit Wisatawan Medis

Malaysia kian memperkuat industri wisata kesehatannya dengan meresmikan Georgetown Specialist Hospital (GSH) di Penang.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 08 Juli 2019  |  11:28 WIB
Penang Perkuat Posisi Malaysia Sebagai Destinasi Favorit Wisatawan Medis
Direktur Georgetown Specialist Hospital Datuk Dr Liong Men Long (tengah) dan Kepala Menteri Penang Chow Kon Yeow (kanan) menggelar konferensi pers Grand Opening Ceremony Georgetown Specialist Hospital di Goergetown, Penang, Sabtu (6/7/2019). - Denis Riantiza M

Bisnis.com, PENANG — Malaysia kian memperkuat industri wisata kesehatannya dengan meresmikan Georgetown Specialist Hospital (GSH) di Penang.

Berdasarkan data Penang Global Tourism 2018, Penang menerima 375.235 turis medis dan memberikan kontribusi pendapatan sebesar RM568 juta. Tahun lalu, Malaysia meraup RM1,5 miliar dari 1,2 juta turis medis, dengan kontribusi pendapatan dari Penang sebesar 37,87%.

Kepala Menteri Penang Chow Kon Yeow berharap GSH dapat membantu meningkatkan posisi Penang sebagai pusat wisata kesehatan dan pengobatan Malaysia.  

“Pemerintah negara bagian bercita-cita untuk terus menjadikan Penang lokasi yang ideal untuk wisata medis. Untuk mencapainya, kami  memanggil penyedia layanan kesehatan untuk terus meningkatkan kualitas perawatan pasien dan meningkatkan fasilitas medis untuk kepentingan masyarakat,” kata Chow saat  Grand Opening Ceremony GSH di Goergetown, Penang,  Sabtu (6/7/2019).

GSH menawarkan pelayanan spesialis, mulai dari penyakit dalam dan nefrologi, ortopedi dan  tulang belakang, gastroenterologi dan hepatologi, bedah umum dan endoskopi, hingga urologi.  

Direktur GSH Datuk Dr Liong Men Long mengatakan pelayanan tersebut diberikan dengan harga yang terjangkau.  “Kami mencoba [menawarkan biaya pelayanan] 10%—20% lebih murah dibandingkan dengan rumah sakit lain,” paparnya.

Penawaran pelayanan dengan harga terjangkau tersebut, lanjut Liong, ditunjang oleh teknologi yang efisien seperti penggunaan 3D Laparoscope untuk operasi kanker prostat, batu ginjal, dan lainnya.Liong menuturkan penggunaan 3D Laparoscope lebih murah dibandingkan operasi robotik.Dengan 3D Laparoscope, biaya operasi kanker prostat hanya berkisar antara RM20.000—RM30.000 (sekitar Rp69 juta—Rp103 juta), sedangkan dengan sistem robotik biayanya  dapat mencapai RM70.000 (sekitar Rp241 juta).

Selain itu, kata Liong, GSH juga menggaransi organ pasien yang mendapat tindakan dapat berfungsi normal seperti sedia kala. “Misalnya, pasien kanker prostat takut setelah operasi tidak bisa ereksi atau kencing bocor.  Namun, 3D Laparoscope dapat mencegah ancaman merusak jaringan saraf untuk ereksi atau kencing bocor,” katanya.

Saat ini, GSH baru dilengkapi dengan 20 tempat tidur pasien 2 tempat bedah, dan 1 ICU.  Dalam 4 tahun ke depan, GHS akan melakukan ekspansi secara bertahap. Pada 2022, GHS akan memiliki 300 tempat tidur pasien serta 100 kamar lain yang dapat digunakan keluarga pasien yang berasal dari luar negeri.

Setelah merampungkan ekspansinya, GSH ditargetkan mampu menampung 10.000—50.000 pasien per bulan. Liong menargetkan pasien asal Indonesia dapat mencapai 50% dari total pasien GSH.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top