Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sejumlah Lahan Gambut Berkondisi Menolak Air

Untuk lahan gambut yang sudah mengalami hidrofobisitas, tidak ada upaya lain selain diusahakan tetap digenangi air meskipun kondisi permukaan tetaplah kering.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 03 Juli 2019  |  10:54 WIB
Lahan gambut. - Antara
Lahan gambut. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA--Badan Restorasi Gambut (BRG) menemukan beberapa lahan gambut yang mengalami hidrofobisitas, yakni menolak air akibat degradasi tingkat tinggi.

"Ada suatu kondisi namanya 'hidrophobicity'. Enggak mau dengan air. Padahal, lahan gambut kan enggak boleh kering," kata Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan BRG Haris Gunawan di Jakarta, Selasa (2/7/2019).

Kondisi hidrofobisitas itu, kata dia, ditemukan dari hasil sampel di Kalimantan Barat, meski di daerah-daerah lainnya pasti ada dengan skala yang bervariasi.

Dibentuk pada 2016, BRG diberi tugas mengkoordinasikan dan memfasilitasi restorasi gambut pada Provinsi Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Sumatra Selatan, Provinsi Kalbar, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan, dan Provinsi Papua.

Lembaga tersebut diberikan tanggung jawab terhadap restorasi lahan gambut dengan total luas sekitar 2,67 juta hektare yang tersebar di tujuh provinsi tersebut.

"Dari hasil sampling kami, lokasinya di Kalbar. Seberapa luasnya, masih dikaji. Sebenarnya, di Riau, Jambi, Sulsel pun juga ada," katanya.

Untuk lahan gambut yang sudah mengalami hidrofobisitas, kata dia, tidak ada upaya lain selain diusahakan tetap digenangi air meskipun kondisi permukaan tetaplah kering.

Menurut dia, degradasi tingkat tinggi yang dialami lahan gambut tersebut bisa terjadi karena faktor alam, yakni musim panas yang berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan.

Namun, kata dia, bisa juga disebabkan ulah manusia yang sengaja membuat lahan gambut mengering dalam waktu sangat lama sehingga mengalami degradasi tingkat tinggi atau rusak.

Selain rusak, kata dia, lahan gambut yang mengalami hidrofobisitas tersebut juga rawan mengalami kebakaran karena bersifat sangat kering.

Haris mengingatkan pentingnya lahan gambut sebagai salah satu tempat persediaan atau penampung air yang sangat dibutuhkan bagi manusia karena 80 persen lahan gambut adalah air.

"Ini 'fresh water', air tawar. Artinya kan jadi penyangga kehidupan. Makanya, perlu diedukasi betapa pentingnya kelestarian lahan gambut bagi kehidupan manusia," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kerusakan lingkungan lahan gambut

Sumber : Antara

Editor : M. Rochmad Purboyo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top