Kemenperin Kembangkan Politeknik Tahun Ini

Tenaga Ahli Kemenperin Bidang Pengembangan Pendidikan Kejuruan dan Vokasi Industri Mujiyono mengatakan lulusan politeknik memiliki keahlian dan perilaku yang dapat langsung diserap oleh industri. Mujiyono menjelaskan, dengan rata-rata pertumbuhan industri di Tanah Air yang mencapai 5-6%, diproyeksikan kebutuhan tenaga kerja mencapai 600 ribu orang per tahun.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 03 Juli 2019  |  01:16 WIB
Kemenperin Kembangkan Politeknik Tahun Ini
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto - ANTARA/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA --Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan akan turut mengembangkan politeknik pada tahun ini untuk menambah sumber daya manusia (SDM) yang dapat langsung diserap oleh industri.

Tenaga Ahli Kemenperin Bidang Pengembangan Pendidikan Kejuruan dan Vokasi Industri Mujiyono mengatakan lulusan politeknik memiliki keahlian dan perilaku yang dapat langsung diserap oleh industri. Mujiyono menjelaskan, dengan rata-rata pertumbuhan industri di Tanah Air yang mencapai 5-6%, diproyeksikan kebutuhan tenaga kerja mencapai 600 ribu orang per tahun. 

“Upaya tersebut merupakan salah satu implementasi dari program prioritas yang terdapat di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Dengan ketersediaan SDM industri yang kompeten, kami meyakini sektor manufaktur nasional akan mampu lebih berdaya saing global di era digital,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (2/7/2019).

Maka dari itu, Mujiyono menambahkan perlu adanya revitalisasi program vokasi, khususnya di pendidikan tinggi seperti politeknik secara terstruktur dan sistematis. Adapun, pemerintah telah menuangkan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) 2020-2024. 

Dalam rencana tersebut, pemerintah menargetkan ada 500 politeknik yang mengikuti program link and match. Mujiyono memaparkan program tersebut meliputi kegiatan magang industri, penyusunan kurikulum politeknik yang sesuai dengan industri, penyediaan alat-alat praktikum di politeknik yang sesuai standar industri, dan proses pembelajaran berbasis kompetensi. 

Untuk mencapai target tersebut, Mujiyono menyampaikan pihaknya telah menyusun tiga strategi. Pertama, memacu pembangunan politeknik di kawasan industri. 

Hal tersebut, menurutnya, dapat langsung menyuplai tenaga kerja terampil yang dibutuhkan pelakuindustri di kawasan tersebut. Pada akhirnya, kurikulum politeknik yang berdiri juga akan disesuaikan dengan jenis industri pada kawasan industri tersebut.

Adapun, Kemenperin telah membangun empat politeknik di kawasan industri sejak 2017 yakni Politeknik Industri Logam di Morowali, Sulawesi Tengah; Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah; Akademi Komunitas Tekstil di Solo, Jawa Tengah; dan Akademi Komunitas Industri Manufaktur di Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Kedua, mendorong agar industri skala besar untuk membangun politeknik sesuai dengan kebutuhan sektornya. Bagi perusahaan yang membangun politeknik, ujarnya, pemerintah akan memfasilitasi keringanan pajak atau memberikan insentif super deductible tax sebesar 200% untuk pengembangan vokasi.

Ketiga, menigntensifikasikan program link and match. Menurutnya, satu politeknik dapat dibina oleh lima pelaku industri. Dengan demikian, kepastian kerja para siswa politeknik dapat meningkat.

 “Seperti di politeknik milik Kemenperin, masa tunggunya dari lulus sampai mendapat pekerjaan hanya tiga sampai enam bulan sudah terserap di perusahaan industri, karena juga sudah bermitra dengan industri,” tuturnya.

Selain itu, Mujiyono mengemukakan pihaknya akan terus mendorong perubahan pola pikir masyarakat yang menganggap politeknik sebagai perguruan tinggi kelas dua. Mujiyono berujar perubahan pola pikir tersebut akan membuat tingkat kepedulian terhadap pendidikan vokasi dan politeknik membaik.

Terpisah, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berujar pihaknya telah memiliki 10 politeknik dan 2 akademi komunitas. Selain meningkatkan jumlah fasilitas pendidikan vokasi, Airlangga menyampaikan pihaknya juga akan terus mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan industri.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kemenperin Harris Munandar mengatakan pihaknya akan memfokuskan pengembangan SDM untuk mengisi kebutuhan SDM pada lima sektor utama kementerian, yaitu otomotif, makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, dan kimia. Pasalnya, lanjutnya, 60% dari total ekspor nasional berasal dari lima sektor tersebut.

“Tenaga kerja terbanyak dari sektor itu, artinya [lima sektor terebut] membutuhkan tenaga kerja yang lebih besar," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenperin

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top