Pengusaha Karet Khawatir Produksi Turun Karena Wabah

Sepanjang Januari-Mei 2019, Gapkindo mencatat ekspor karet nasional mengalami koreksi sebesar 15,8% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sepanjang lima bulan pertama, volume ekspor tercatat berada di angka 1.088.000 ton, turun 205.000 ton dibanding periode Januari-Mei 2018 yang mencapai 1.293.000 ton.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 01 Juli 2019  |  20:33 WIB
Pengusaha Karet Khawatir Produksi Turun Karena Wabah
Petani mengumpulkan getah karet hasil panen di perkebunan Bathin II Babeko, Bungo, Jambi, Sabtu (30/3/2019). Harga jual getah karet di tingkat petani setempat berangsur naik dari Rp8.000 per kilogram pada minggu lalu menjadi Rp8.200 per kilogram per hari ini. ANTARA FOTO - Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan pengusaha karet mengaku khawatir akan potensi penurunan produksi jika berkaca pada performa ekspor selama periode Januari-Mei 2019 dan wabah penyakit gugur daun yang dikabarkan kembali menjangkit tanaman.

Kondisi ini dikhawatirkan dapat pula berpengaruh pada harga karet yang berangsur membaik sejak tiga negara produsen karet terbesar dunia sepakat memangkas ekspor sampai 240.000 ton.

“Kami tidak bisa menilai apakah produksi akan turun atau tidak, namun jika melihat kondisi pada Januari-Mei seperti ini, kami khawatir sampai akhir tahun produksi akan turun,” kata Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Meonardji Soedargo kepada Bisnis, Senin (1/7/2019).

Sepanjang Januari-Mei 2019, Gapkindo mencatat ekspor karet nasional mengalami koreksi sebesar 15,8% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sepanjang lima bulan pertama, volume ekspor tercatat berada di angka 1.088.000 ton, turun 205.000 ton dibanding periode Januari-Mei 2018 yang mencapai 1.293.000 ton.

“Selama Januari-Mei sudah turun, kami khawatir tren serupa akan berlanjut,” ulang Moenardji.

Selain faktor pemangkasan volume ekspor yang dilakukan pemerintah sejak April lalu sebagai upaya stabilisasi harga karet global, Moenardji mengemukakan turunnya ekspor juga dipengaruhi oleh pasokan yang berkurang. Ia menduga ada penurunan produksi di sektor hulu meski ia tak bisa memastikan berapa besarannya.

“Kami merasa produksi kurang dibanding sebelumnya dan terlihat dari pasokan bahan baku yang berkurang. Ada beragam dugaan penyebab, disinyalir karena ada penyakit pohon karet yang mengakibatkan pohon menjadi kering, seperti meranggas,” tutur Moenardji.

Berdasarkan korespondensi yang dilakukan Moenardji dengan pengusaha karet asal Malaysia, wabah serupa dikabarkan juga menjangkiti tanaman di sana. Namun sebagaimana di Indonesia, pemerintah belum bisa memastikan luas lahan dan dampak yang terjadi akibat fenomena ini.

“Pertanyaannya sekarang apakah hal ini [penyakit tanaman karet] berpengaruh ke harga atau tidak? Kami masih melihatnya. Harga karet sudah membaik sejak kebijakan pemangkasan yang dilakukan oleh ITRC. Kira-kira sekarang bagaimana, kan ada potensi pengurangan pasokan karena adanya penyakit, setidaknya di Indonesia,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
karet

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top