PASOKAN BERAS: Operasi Pasar Berlanjut, Petani Cemas

Keputusan pemerintah untuk melanjutkan kembali program ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga (KPSH) melalui operasi pasar per 31 Juni 2019 membuat kalangan petani cemas. Pasalnya, kebijakan itu diyakini berpotensi kian menggerus harga gabah.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 28 Juni 2019  |  16:41 WIB
PASOKAN BERAS: Operasi Pasar Berlanjut, Petani Cemas
Pedagang menata beras di Pasar Tradisional Pinasungkulan, Manado, Sulawesi Utara, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Adwit B Pramono

Bisnis.com, JAKARTA—Keputusan pemerintah untuk melanjutkan kembali program ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga (KPSH) melalui operasi pasar  per 31 Juni 2019 membuat kalangan petani cemas. Pasalnya, kebijakan itu diyakini berpotensi kian menggerus harga gabah.

Menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA)  Winarno Tohir, tanpa adanya operasi pasar harga gabah di petani saat ini sudah jatuh. “Tanpa operasi pasar saja harga sudah jatuh, bagaimana kalau operasi pasar,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Selasa (25/6).

Dia menyebutkan, saat ini harga gabah kering panen ada di level Rp4.500/kg padahal seharusnya bisa mencapai Rp5.000/kg.

Seperti diketahui, pemerintah memutuskan untuk menyalurkan total 1,48 juta ton beras Perum Bulog sepanjang tahun ini lewat operasi pasar.

Padahal, dalam periode 1 Januari hingga 31 Mei  2019, jumlah beras yang telah disalurkan baru mencapai 225.000 ton. Dengan demikian, masih ada sekitar 1,26 juta ton beras yang harus disalurkan hingga akhir tahun.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyebutkan ditempuhnya opsi melanjutkan KPSH pada Juni hingga Desember nanti bertujuan agar terjadi perputaran dalam stok beras milik Bulog.

“Supaya bulog itu berasnya berganti, berputar. Jangan sampai Bulog tidak bisa membeli karena stoknya banyak,” katanya.

Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas berpendapat sama dengan Winarno.

“Sekarang ini gabah itu menumpuk di tingkat petani, lalu digelontorkan operasi pasar makin sedikit nanti yang beli dari petani, walaupun alasannya supaya Bulog bisa membeli,” jelas Dwi ketika dihubungi Bisnis, Selasa (25/6).

Lebih lanjut, Dwi menjelaskan bahwa saat ini, harga gabah di tingkat petani ada di sekitar angka Rp4.000/kg. Padahal, biaya yang dibutuhkan untuk produksi gabah dalam hitungan per April lalu telah mencapai Rp4.523 per kilogram.

Jika pemerintah tetap bersikukuh melakukan penyaluran beras, dikhawatirkan harga gabah berpotensi terus tertekan dan membuat petani yang telah merugi juga ikut semakin tertekan. Oleh karena itu, dia menyarankan agar pemerintah bisa lebih bijak dengan mengikuti pergerakan harga gabah di tingkat usaha tani. 

“Jika harga gabah dibiarkan bergerak sesuai kondisi yang ada, diharapkan pada Juni nanti terjadi peningkatan harga mendekati level Rp4.500/kg. Dengan demikian, kerugian petani bisa teratasi,”jelasnya.

Di sisi lain, Andreas juga mewanti-wanti kemampuan Bulog dalam menyerap beras petani. Pasalnya, seperti diketahui pembelian beras dari Bulog oleh Petani terikat pada HPP atau harga pembelian pemerintah yang saat ini ditetapkan di level Rp3.700 per kilogram gabah atau maksimal Rp4.070 dengan adanya fleksibilitas 10%. 

Padahal, angka produksi gabah per April sudah mencapai Rp4.523. “Sangat sulit lah. Enggak logis karena ada HPP,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
produksi beras

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top