Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perjanjian Internasional Dinilai Dongkrak Neraca Perdagangan

Bisnis.com, JAKARTA-Perekonomian global yang tengah melambat karena momok perang dagang diakui menyulitkan langkah ekspor. Namun, langkah Kementerian Perdagangan untuk terus melakukan penetrasi pasar baru dianggap sudah tepat guna tidak membuat kondisi ekspor Indonesia makin anjlok.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 27 Juni 2019  |  20:44 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA-Perekonomian global yang tengah melambat karena momok perang dagang diakui menyulitkan langkah ekspor. Namun, langkah Kementerian Perdagangan untuk terus melakukan penetrasi pasar baru dianggap sudah tepat guna tidak membuat kondisi ekspor Indonesia makin anjlok.

Gencarnya upaya pemerintah melakukan perjanjian-perjanjian baru dengan negara-negara lain setelah tahun-tahun sebelumnya tampak vakum, dinilai sebagai hal positif yang diharap bisa mendongkrak neraca perdagangan ke depan.

“Sudah tepat yang sedang diinisiasi sekarang,” ujar Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus, kepada wartawan di Jakarta.

Heri melihat, dalam 2 tahun terakhir memang upaya ini gencar dilakukan Kementerian Perdagangan. “Baru kali ini mau gencar lagi. Ini di satu sisi positif. Tapi, harus diantisipasi juga timbal baliknya,” imbuhnya, menyoal upaya Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan jajarannya.

Ia mengingatkan, ada hal yang harus diantisipasi. Untuk mengantisipasi timbal balik impor yang makin deras dari adanya perjanjian dagang, harus ada penguatan manufaktur. Kalau tidak, Indonesia akan sulit bersaing dengan produk luar.

Pemilihan negara berkembang, misalnya di kawasan Amerika Latin dan Afrika, pun diapresiasi karena dianggap bisa meminimalkan risiko lesunya perdagangan dari mitra dagang besar Indonesia yang sedang terlibat perang dagang.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelastianingsih mengakui upaya serius pemerintah terlihat dalam melakukan perluasan pasar. Walaupun masih dirasa minim pengaruhnya terhadap peningkatan ekspor. Namun, upaya pemerintah membuka akses pasar baru tetap patut diapresiasi.

“Ya itu patut diapresiasi. Harus kita hargai dong. Nggak boleh kita abaikan, karena yang namanya market diversification is a must, suatu keharusan. Diversifikasi produk pun is a must, suatu keharusan,” ujar Lana kepada wartawan di Jakarta, Selasa (25/6).

Lana menilai, perluasan pasar dapat menyelamatkan Indonesia dari pelemahan ekonomi dunia, terutama yang disebabkan oleh perang dagang seperti yang terjadi sekarang. Di mana, perang dagang antara Amerika dan China membuat ekspor Indonesia menurun.

“Sering terjadi kalau ada salah satu komoditas andalan Indonesia harganya naik misal kopi, siapa nih yang suka minum kopi, Uni Eropa. Kita ekspornya ke uni Eropa aja. Nggak cari alternatif pasar lain karena keenakan,” tegasnya

Diakui Lana dan Heri, untuk jangka pendek ekspor kita masih dipengaruhi oleh permintaan global, yaitu pasar-pasar tradisional Indonesia. Efek perjanjian dagang baru bisa terasa dalam kisaran setidaknya setahun. Terkait hal ini, sosialisasi yang gencar diperlukan supaya para pengusaha mampu memanfaatkan perjanjian dagang yang ada.

Untuk diketahui, kondisi pada Mei kemarin, ekspor Indonesia tercatat sebear US$14,74 miliar. Nilai tersebut naik 12,42% dibandingkan bulan April 2019. Namun dibandingkan Mei tahun lalu, nilainya masih minus -8.99%.

Di sisi lain, nilai impor menurun 17,71% secara tahunan. Besarannya pada Mei 2019 berada di angka US$14,53 miliar. Dengan kondisi tersebut, neraca dagang Indonesia tercatat surplus US$0,21 miliar.

Senada dengan Heri, sebelumnya Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, ketidakpastian perekonomian global semakin menekan perdagangan dunia, khususnya Amerika dan China. Di mana keduanya merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.

Di samping itu, harga beberapa komoditas utama ekspor Indonesia, seperti minyak ketel, bijih tembaga, dan minyak kelapa sawit, juga mengalami penurunan.

“Upaya menggenjot ekspor akan menghadapi tantangan luar biasa karena banyak negara tujuan ekspor utama mengalami perlambatan ekonomi,” terang Suhariyanto, Senin (24/6).

Neraca dagang sepanjang Januari-Mei 2019 masih mencatatkan defisit sebesar US$2,14 miliar. Defisit itu terutama disebabkan oleh defisit migas sebesar US$3,74 miliar. Sementara nonmigas masih mencatatkan surp;is US$1,6 miliar.

Namun, defisit neraca dagang itu lebih baik daripada defisit neraca dagang periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$2,86 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor
Editor : Bambang Supriyanto
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top