Airlangga Hartarto Terima Gelar Doktor Kehormatan dari KDI School

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto resmi menjadi alumni universitas ternama Korea Selatan, KDI School, setelah menerima gelar doktor kehormatan pada hari ini, Rabu (26/6/2019).
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 26 Juni 2019  |  09:18 WIB
Airlangga Hartarto Terima Gelar Doktor Kehormatan dari KDI School
Airlangga Hartarto dan Chairman NRC Seong Kyoung Ryung (kiri) dan Dean KDI School You Jong-Il (kanan) usai dianugerahi gelar Doktor Kehormatan oleh KDI School. - Istimewa

Bisnis.com, SEJONG, Korea - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto resmi menjadi alumni universitas ternama Korea Selatan, KDI School, setelah menerima gelar doktor kehormatan pada hari ini, Rabu (26/6/2019).

Gelar Honorary Doctor of Philosophy diberikan di bidang kebijakan pembangunan atas kiprah Airlangga mendorong pertumbuhan sektor industri di Indonesia serta meningkatkan hubungan baik antara Indonesia dengan Korea Selatan.

Airlangga juga memberikan kuliah khusus di KDI School dengan judul “Advancing Development Policy through Industry 4.0".

Airlangga mengatakan bahwa gelar doktoral ini merupakan kehormatan baginya yang diberikan oleh institusi pendidikan dan riset yang diakui dunia dan telah berperan penting dalam pembangunan Republik Korea.

"Saya ingin berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo, beliau adalah pemimpin yang telah mengerjakan hal-hal positif bagi negara kami. Secara pribadi, beliau adalah mentor saya yang memungkinkan saya untuk mendedikasikan diri bagi tujuan pembangunan Indonesia. Beliau juga memberikan dukungan penuh untuk peluncuran “Making Indonesia 4.0” pada April 2018 yag merupakan salah satu kerangka pembangunan masa depan Indonesia," katanya.

Sebagai Menteri Perindustrian, dan pernah menjabat sebagai anggota DPR, Airlangga punya banyak pengalaman dengan para ahli, pemimpin perusahaan, dan para pejabat Republik Korea. Menurutnya, kedua negara memiliki hubungan yang luar biasa dan merupakan golden combination dari demokrasi dan pertumbuhan ekonomi yang relatif pesat.

Namun, lanjutnya, kita perlu menyadari bahwa kondisi global di masa depan akan memberikan tantangan baru yang belum bisa diprediksi. Sikap global terhadap perdagangan internasional menjadi lebih tertutup.

"Saat ini penting bagi kita untuk berdiri bersama karena kemakmuran merupakan hasil dari persatuan, keterbukaan, dan kerja sama. Singkatnya, kita harus memperkuat dan memperdalam kerja sama dan memberikan contoh saling menghargai yang penting untuk kesuksesan di masa depan," katanya.

Airlangga bercerita, persahabatan Indonesia – Republik Korea secara formal dimulai pada 1966 saat Korsel membuka konsulat pertama di Indonesia. Kerja sama lain dilakukan di bidang pendidikan, kebudayaan, kesenian, dan banyak lagi.

Bahkan sekolah Korean International School yang berdiri sejak 1975 di Jakarta menjadi sekolah yang terbesar di Asia Tenggara.

"Begitu pula dengan musik KPop yang mempunyai basis fans besar di Indonesia."

Menurutnya, orang muda dan masyarakat kelas menengah Indonesia terbukti menyukai kebudayaan Korea dan mengadopsi produk seperti kosmetik dan fesyen.

Sementara itu, di sektor bisnis dan ekonomi secara umum, Indonesia dan Korea telah membuat banyak kemajuan. Beberapa kerja sama strategis yang sudah dilakukan meliputi joint task force untuk mempromosikan kerja sama ekonomi.

"Belakangan, kita mendirikan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement di 2019 yang menargetkan perdagangan bilateral hingga US$30 miliar pada 2022 mendatang."

Kerja sama kedua negara juga dilakukan dengan membentuk Korea-Indonesia Technology Cooperation Center untuk mempromosikan kerja sama lebih lanjut antara kedua negara dan untuk mendukung perusahaan-perusahaan Korea di Indonesia di area teknologi industri, melaksanakan riset dan program pembangunan bersama, dan semacamnya.

Hasilnya, kata Airlangga, Korea secara konsisten menjadi negara investor lima besar dalam lima tahun terakhir, dengan investasi di sektor industri baja, permesinan, karet dan plastik, kayu, kimia, dan elektronika.

Di sisi lain, terdapat penambahan impor dari Korea di beberapa tahun terakhir, dengan total US$9,5 miliar pada 2018. Produknya antara lain mineral dan bahan bakar, besi dan baja, mesin elektronik, peralatan dan komponen, permesinan, plastik, karet, dan tekstil rajutan.

Sejak 2016, Kemenperin aktif berkolaborasi dengan perusahaan Korea, terutama di sektor industri pengolahan, energi, dan infrastruktur. Hasilnya, beberapa perusahaan memutuskan meningkatkan investasinya, seperti Lotte Chemicals yang mengembangkan investasinya di Cilegon sebesar US$4 miliar.

"Kebijakan kami dalam memperdalam struktur industri didukung oleh perusahaan-perusahaan Korea. Saat ini kami meningkatkan kerja sama di industri stainless steel, terutama untuk Indonesia bagian timur. Making Indonesia 4.0 menarik industri otomotif dari Korea. Kami berharap Indonesia bisa menjadi manufacturing hub penting di Asia."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, korea selatan, airlangga hartarto, Kpop

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup