Permintaan Kayu Bersertifikat Capai 82 Persen

Dengan adanya sertifikasi, perusahaan juga mendapatkan keuntungan dengan penambahan nilai produk yang dihasilkan dibandingkan dengan korporasi kayu yang belum bersertifikat.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 19 Juni 2019  |  16:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Hasil laporan survei pasar global Forest Stewardship Council (FSC) menunjukkan bahwa tren permintaan kayu yang sudah tersertifikasi oleh perusahaan secara global pada tahun lalu mencapai 82 persen dari total permintaan.

Survei FSC ini dilakukan terhadap 4.062 responden pemilik sertifikat FSC yang terdiri atas 69% perusahaan tingkat menengah, 23% perusahaan kecil dan 8% perusahaan besar dari 95 negara.

Hartono, Country Manager FSC Indonesia mengatakan tren kenaikan terjadi karena tingginya permintaan dan minat beli konsumen terhadap produk-produk kayu yang sudah tersertifikasi.

"Alasan mereka [korporasi] melakukan sertifikasi menurut survei ini adalah karena tingginya permintaan dari konsumen terhadap produk-produk kayu bersertifikasi," kata Hartono kepada Bisnis, di World Trade Center 5, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2019).

Hartono menjelaskan, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa selain untuk memenuhi permintaan konsumen, mayoritas pemegang sertifikat FSC mendapatkan kemudahan akses pasar dan konsumen baru sebesar 34%.

Dia menambahkan dengan adanya sertifikasi, perusahaan juga mendapatkan keuntungan dengan penambahan nilai produk yang dihasilkan dibandingkan dengan korporasi kayu yang belum bersertifikat.

"Salah satu keuntungan mereka dengan tersertifikasi adalah mereka improve akses market-nya," lanjutnya.

Kendati demikian, Hartono mengatakan di Indonesia kesadaran untuk melakukan sertifikasi produk kehutanan belum masif dilakukan karena terkendala masalah biaya yang dianggap terlalu mahal dan masih rendahnya minat masyarakat untuk membeli produk kehutanan yang tersertifikasi.

Tercatat, per 4 Juni 2019 baru ada sekitar 291 perusahaan kayu dan pemegang izin konsesi Indonesia yang memiliki sertifikat FSC.

"Tetapi [itu terjadi] tidak hanya di Indonesia, di luar [negeri] juga begitu. Ketika ada barang bersertifikasi harganya mahal kemudian ada barang yang sama dan lebih murah [dan belum bersertifikat], mereka mencari yang lebih murah," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sertifikasi kayu, legalitas kayu

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup