Kontribusi Cukai Rokok Besar, Pemerintah Perlu Melihat Kelangsungan Industri Tembakau

Ketua umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI) Agus Parmuji mengapresiasi kontribusi Industri Hasil Tembakau (IHT) terhadap pendapatan negara yang cukup signifikan.
Edi Suwiknyo | 02 Juni 2019 08:55 WIB
Warga menjemur tembakau rajangan di lapangan Desa Ngadimulyo, Kedu, Temanggung, Jateng, Rabu (13/9). - ANTARA/Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI) Agus Parmuji mengapresiasi kontribusi Industri Hasil Tembakau (IHT) terhadap pendapatan negara yang cukup signifikan.

Sepanjang tahun 2018, IHT tercatat berkontribusi kepada negara sebesar Rp153 Triliun.

Di lain sisi, kata Agus, keberadaan IHT selama ini cukup membantu pemerintah terutama terkait serapan angkatan tenaga kerja yang bisa dibilang sangat signifikan di daerah penghasil tembakau di Indonesia tersebar di 15 propinsi dengan provinsi penghasil tembakau terbesar ada di Jawa Timur, Jawa Tengah, NTB, Jabar dan DIY.

"Di 15 provinsi tersebut penyerapan petani dan buruh tani tembakau ada sekitar 3 juta dengan luas lahan tanaman sekitar 235 ribu Ha," kata Agus (1/6/2019).

Dikatakan Agus, budidaya pertanian tembakau masuk dalam kategori tanaman musiman bukan tahunan. Setiap daerah mempunyai perlakuan budidaya tersendiri sesuai dengan karakteristik kearifan daerah.

Sehingga, budidaya pertanian tembakau termasuk media pertanian yang ikut membantu pemerintah dalam hal penyerapan tenaga kerja.

"Kalau penyerapan ketenagakerjaan seluruh IHT saya kira banyak sekali mulai dari hulu sampai hilir, di tingkat pertaniannya saja sekitar 3 jutaan belum di industrinya juga tidak terhitung hingga sampai ke pedagang asongan juga ikut merasakan bagaimana bisa ikut bekerja sebagai penjual rokok," ujar Agus.

Agus juga menyoroti wacana kenaikan tarif cukai rokok oleh pemerintah. Menurutnya, jika kebijakan tersebut diterapkan justru dapat membuat IHT tidak dapat bergairah.

"Ketika cukai diprioritaskan setiap tahun naik, maka akan berdampak sangat negatif bagi petani karena dengan naiknya cukai maka harga rokok akan semakin tinggi, pasar akan makin lama makin lemah akan berdampak pada penyerapan bahan baku lokal," tegasnya.

Agus juga menyoroti masih minimnya perhatian pemerintah terutama terkait perlindungan tenaga kerja dan petani tembakau yang dirasa belum maksimal sampai saat ini.

Dalam hal perlindungan tenaga kerja di pertanian tembakau masih biasa saja tidak ada poin spesifik. Sementara perlindungan terhadap pertanian tembakau secara umum belum begitu maksimal. Kata dia, budidaya tanaman tembakau oleh pemerintah masih dibiarkan sendiri.

"Artinya petani menanam sendiri merawat sendiri dan menjual sendiri belum ada bimbingan secara khusus di pihak Pemerintah baik pusat maupun daerah untuk mendampingi agar hasilnya maksimal," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tembakau

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top