Titik Temu Baru Blok Masela dengan Inpex

Negosiasi pengelolaan Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku yang berlangsung hampir 20 tahun mencapai titik akhir setelah Pemerintah Indonesia dan Inpex Corporation Jepang menyepakati tiga poin utama.
David Eka Issetiabudi | 28 Mei 2019 12:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Negosiasi pengelolaan Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku yang berlangsung hampir 20 tahun mencapai titik akhir setelah Pemerintah Indonesia dan Inpex Corporation Jepang menyepakati tiga poin utama.

Kesepakatan Blok Masela dengan Inpex menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (28/5/2019). Berikut laporannya.

Sejumlah poin strategis tersebut disepakati dalam pertemuan lanjutan antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Chief Executive Officer Inpex Corporation Takayuki Ueda di Tokyo, Senin (27/5/2019).

Jonan tiba di Jepang dari lawatan sebelumnya ke Houston, Amerika Serikat. Pertemuan dengan Inpex kali ini, merupakan pertemuan lanjutan pada 16 Mei di Tokyo.

Dalam pertemuan kali ini, Jonan didampingi Duta Besar RI untuk Jepang Arifin Tasrif, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soe­tjipto, Wakil Kepala SKK Migas Sukandar, dan Deputi Perencanaan SKK Migas Jafee Suardin.

Pemerintah dan Inpex bersepakat mengenai tiga hal yakni biaya pengembangan, besaran split, dan insentif. Kesepakatan final ini, ditandai dengan penandatanganan Minute of Meeting oleh Dwi Soetjipto dan Takayuki Ueda, disaksikan Menteri Jonan.

Inpex Masela Ltd. telah merevisi pengembangan Masela setelah Presiden Joko Widodo mengubah skema dari kilang LNG terapung menjadi kilang LNG darat pada Maret 2016.

Inpex meneken kontrak Blok Masela pada 1998 dengan kontrak selama 30 tahun, yaitu hingga 2028. Namun, hingga kini belum mulai produksi. Produksi pertama diperkirakan dimulai 2027, atau 1 tahun sebelum kontrak berakhir.

Jonan mengatakan penandatanganan perjanjian antara Pemerintah Indonesia dan Inpex Corporation akan dilaksanakan pada pertemuan G20 di Jepang, beberapa waktu mendatang.

“Akhirnya Inpex dan SKK Migas sepakat atas pokok-pokok pengembangan Blok Masela di Tokyo. Nilai investasi antara US$18 miliar—US$20 miliar dengan pembagian yang fair bagi Negara RI dan kontraktor,” kata Jonan.

BAGI HASIL

Berdasarkan keterangan tertulis Kementerian ESDM, nilai investasi pengembangan Blok Masela akan mencapai sekitar US$20 miliar. Kedua pihak berhasil menyepakati win-win solution dengan skema bagi hasil, di mana pemerintah sekurangnya mendapat bagian (split) 50%.

Potensi cadangan gas di Masela tercatat sebanyak 10,7 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/Tcf) atau 10,7 miliar MMBtu. Dengan asumsi harga gas saat ini US$8 per MMBtu, maka cadangan gas tersebut akan menghasilkan uang US$85,6 miliar.

Sementara itu, Inpex hanya membutuhkan belanja modal US$18 miliar-US$20 miliar. Jadi, keuntungan sekitar US$65,6 miliar. Dengan skema bagi hasil pemerintah 50% dan kontraktor 50%, Pemerintah Indonesia akan mendapatkan penerimaan setara US$32,8 miliar.

Produksi pertama Masela diproyeksikan pada 2027, kemudian diperpanjang 20 tahun, yaitu sampai 2048. Selain itu, Masela dijanjikan mendapatkan tambahan waktu produksi 7 tahun, yaitu hingga 2055.

Jadi, total waktu produksi Masela sekitar 28 tahun (2027—2055). Namun, pemerintah memperpanjang lagi selama 20 tahun kedua, yaitu 2055—2075.

Adapun Kepala SKK Migas Dwi Soe­tjipto menceritakan Inpex Corporation membutuhkan persetujuan pemegang saham atas poin yang disepakati dengan Pemerintah Indonesia.

“Sekarang, Inpex membutuhkan persetujuan para pemegang saham. Begitu juga dari sisi kita . Yang jelas, apa yang sudah kesepahaman sore ini, akan membuat pengembangan proyek mengalir lebih cepat,” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Senin (27/5/2019).

Dwi optimistis dengan disepakatinya poin strategis dalam PoD Lapangan Abadi, proyek ini dapat beroperasi pada 2027. Hanya saja, pihak Inpex juga mengajukan soal tambahan waktu pengembangan proyek strategis nasional tersebut.

Dia menambahkan skenario biaya pengembangan sudah disepakati, tinggal menunggu persetujuan dari masing-masing pihak. “Ini yang masih dalam proses, tetapi nanti kita umumkan, kalau tidak salah sekitar 7 tahun ,” tambahnya.

Senior Specialist Media Relations Inpex Corporation Mochamad Nunung Kurniawan ketika dihubungi Bisnis, menyatakan pihaknya belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
skk migas, inpex, blok masela

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top