Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inaplas : Belum Ada, Industri Pengguna Methanol untuk Propilena

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyatakan saat ini belum ada industri yang menggunakan methanol untuk diolah menjadi propilena.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 28 Mei 2019  |  20:00 WIB
Pekerja PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) menuangkan biji plastik (polypropylene) ramah lingkungan untuk bahan membuat kantong plastik yang mudah lapuk kembali menjadi tanah dalam tempo 4 bulan, di Cilegon, Banten, Selasa (12/11). Perusahaan petrokimia tersebut memproduksi biji plastik ramah lingkungan dengan kode Asrene SF5008E untuk dipasarkan ke semua kota Besar di Indonesia untuk mengurangi dampak buruk limbah plastik konvensional yang tidak bisa lapuk dalam ratusan tahun. - antara
Pekerja PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) menuangkan biji plastik (polypropylene) ramah lingkungan untuk bahan membuat kantong plastik yang mudah lapuk kembali menjadi tanah dalam tempo 4 bulan, di Cilegon, Banten, Selasa (12/11). Perusahaan petrokimia tersebut memproduksi biji plastik ramah lingkungan dengan kode Asrene SF5008E untuk dipasarkan ke semua kota Besar di Indonesia untuk mengurangi dampak buruk limbah plastik konvensional yang tidak bisa lapuk dalam ratusan tahun. - antara

Bisnis.com, JAKARTA--Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyatakan saat ini belum ada industri yang menggunakan methanol untuk diolah menjadi propilena.

Fajar Budiyono, Sekretaris Jenderal Inaplas, menyampaikan pabrik methanol yang ada baru mengolahnya menjadi biofuel, biodiesel, atau disalurkan ke pabrik cat. Padahal, methanol bisa diolah menjadi propilena. Saat ini industri petrokimia dalam negeri menggunakan nafta sebagai bahan baku propilena.

"Kalau Sojitz Group nanti mengolah methanol menjadi propilena, kami siap jadi off taker," ujarnya, Selasa (28/5/2019).

Dia menilai investasi methanol membutuhkan kestabilan pasokan gas dan harga yang berdaya saing. Fajar berharap pemerintah bisa memberikan kebijakan terintegrasi terkait dengan harga gas.

"Formula gasnya dibagi rata oleh industri pengolahnya, tidak dipotong-potong per industri. Jika tidak terintegrasi, dengan harga gas saat ini nanti [propilena dari methanol] harganya enggak masuk," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

propilena inaplast
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top