Industri Daur Ulang Plastik Butuh Insentif

Industri daur ulang sampah perlu diberi insentif agar semakin berkembang dan pada akhirnya mengurangi sampah plastik.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  09:20 WIB
Industri Daur Ulang Plastik Butuh Insentif
Tumpukan limbah plastik. - foto reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Industri daur ulang sampah perlu diberi insentif agar semakin berkembang dan pada akhirnya mengurangi sampah plastik.

Fajar Budiyono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), mengatakan bahwa saat ini sampah menjadi masalah utama yang dihadapi oleh pelaku industri plastik dalam negeri.

Menurutnya, industri daur ulang sampah perlu didukung karena sektor ini mengumpulkan sampah, memproses, dan mendaur ulang sampah plastik, bahkan sudah ada yang mengekspor produknya.

“Sampai saat ini belum ada insentif, malah selama ini dikenai disinsentif. Apa yang dilakukan teman-teman di industri daur ulang ini sudah benar, mereka harus diberi kemudahan,” ujarnya Rabu (22/5/2019).

Disinsentif yang dimaksud adalah industri daur ulang plastik dibebani dengan pajak yang cukup besar, yaitu 10% untuk pajak pemasukan dan pengeluaran.

Dalam mengatasi masalah sampah plastik, Fajar juga meminta pemerintah untuk mengurangi impor sampah yang akan didaur ulang. Dia menyebutkan selama ini industri daur ulang masih under utility atau kapasitas terpakainya rendah karena sampah di dalam negeri belum ditangani dengan baik dan belum bisa didaur ulang semuanya.

Apalagi, saat ini China telah menyatakan tidak mau lagi menerima impor sampah dari Amerika Serikat dan negara-negara kawasan Eropa. Dia juga menilai, masalah sampah bermuara pada sistem manajemen yang buruk.

“Karena sampah di sini masih dicampur sehingga industri daur ulang mengimpor sampah plastik,” jelasnya.

Selain itu, dia berpendapat bahwa berdasarkan UU Nomor 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah diatur mengenai pengaturan dan pengurangan sampah, bukan pelarangan. Namun, berbagai pihak justru fokus pada pelarangan, terutama sampah plastik. Padahal, lanjutnya, sampah plastik hanya menyumbang sekitar 15% dari total volume sampah yang ada.

“Kalau ribut terus di sampah plastik, ya tidak selesai masalah sampah. Lebih baik mencari solusi melalui manajemen sampah, tidak hanya plastik, tetapi juga kertas, logam, mamin, plastik, dan kaca. Circular economy harus jalan,” kata Fajar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pengolahan limbah, Sampah Plastik

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top