Ekonomi Jepang Tumbuh Lebih Kuat dari Perkiraan

Pertumbuhan ekonomi Jepang secara tak terduga mengalami percepatan pada tiga bulan pertama 2019, didorong oleh kontribusi bersih dari ekspor dan menentang perkiraan untuk kontraksi pada ekonomi terbesar ketiga di dunia tersebut.
Nirmala Aninda | 21 Mei 2019 09:02 WIB
Sejumlah alat berat saat pengerjaan konstruksi di Tokyo. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Jepang secara tak terduga mengalami percepatan pada tiga bulan pertama 2019, didorong oleh kontribusi bersih dari ekspor dan menentang perkiraan untuk kontraksi pada ekonomi terbesar ketiga di dunia tersebut.

Data pemerintah menunjukkan bahwa ekonomi Jepang tumbuh sebesar 2,1 persen secara tahunan pada kuartal I/2019, sedikit meningkat dari pertumbuhan kuartal sebelumnya.

Pembacaan awal untuk produk domestik bruto kuartal pertama dibandingkan dengan estimasi median dari kontraksi tahunan 0,2 persen dalam jajak pendapat Reuters para ekonom. 

Realisasi ini mengikuti ekspansi 1,6 persen yang direvisi pada Oktober-Desember.

"Secara kuartalan PDB tumbuh 0,5 persen," ujar Kantor Kabinet, jika dibandingkan dengan estimasi median dengan pembacaan stagnan, seperti dikutip melalui Reuters, Selasa (21/5/2019).

Meski demikian, perlu diingat bahwa ekspansi tersebut sebagian besar disebabkan oleh impor yang menurun lebih cepat dari ekspor, yang kemungkinan mencerminkan permintaan domestik tetap lemah.

Kondisi ini cukup meresahkan bagi para pembuat kebijakan dengan rencana kenaikan pajak penjualan yang dijadwalkan mulai berlaku pada Oktober mendatang.

Prospek permintaan domestik yang lemah diperkuat dengan data konsumsi swasta dan belanja modal, keduanya jatuh sepanjang kuartal pertama, sementara ekspor mengalami penurunan terbesar sejak 2015.

Melunaknya indikator ekonomi di balik angka utama PDB dapat mempertahankan spekulasi bahwa Perdana Menteri Shinzo Abe kemungkinan akan menunda kenaikan pajak penjualan sekali lagi.

"Semua komponen terpenting dari PDB negatif. Ekonomi sudah memuncak, jadi kita cenderung akan mengalami resesi ringan. Tidak akan ada yang menolak penundaan kenaikan pajak," ujar Hiroaki Muto, kepala ekonom di Tokai Tokyo Research Center.

Ekspansi angka utama PDB sebagian besar disebabkan oleh penurunan impor 4,6 persen, penurunan terbesar dalam satu dekade dan lebih dari 2,4 persen penurunan ekspor.

Data pemerintahan menunjukkan karena impor turun lebih dari ekspor, ekspor neto menambahkan 0,4 persen ke pertumbuhan PDB.

Konsumsi swasta turun 0,1 persen dan belanja modal turun 0,3 persen, meragukan pandangan para pembuat kebijakan bahwa permintaan domestik yang kuat akan mengimbangi defisit akibat melambatnya ekspor.

Ada seruan yang muncul dari beberapa mantan pembuat kebijakan untuk menunda kenaikan pajak penjualan dalam menghadapi kondisi domestik dan eksternal yang memburuk.

Namun, Menteri Ekonomi Toshimitsu Motegi dengan mantap mengatakan bahwa tidak ada perubahan pada rencana pemerintah untuk menaikkan pajak penjualan dari 8 persen menjadi 10 persen pada Oktober.

"Tidak ada perubahan pada pandangan kami bahwa faktor fundamental yang mendukung permintaan domestik tetap solid," Motegi mengatakan kepada wartawan setelah merilis data ekonomi.

Meski demikian, beberapa analis memperingatkan bahwa ekonomi Jepang akan terus menghadapi tantangan yang dapat menghambat pertumbuhan di kuartal mendatang.

Ekonom senior Mizuho Research Institute Kentaro Arita, mengatakan bahwa ke depannya belanja konsumen akan tetap lemah.

"Pada kuartal kedua, PDB bisa turun menjadi nol atau sedikit negatif karena ekspor akan tetap lemah. Ini, dikombinasikan dengan melemahnya belanja modal, berarti ada risiko resesi," kata Arita.

Data PDB dirilis bersamaan dengan indeks koinsiden ekonomi pemerintah yang menunjukkan kemungkinan resesi akibat ekspor dan output pabrik yang semakin tertekan oleh perlambatan dari China dan perang dagang antara Beijing dengan Washington.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi jepang

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top