Lolos dari Rencana Delisting Pangan Organik, Pengusaha Rumput Laut Tetap Siaga

Pengusaha rumput laut nasional diminta tetap waspada kendati telah lolos dari isu delisting karagenan atau ekstraksi rumput laut dari daftar bahan pangan organik AS beberapa waktu lalu.
Juli Etha Ramaida Manalu | 14 Mei 2019 09:18 WIB
Petani rumput laut memeriksa tanaman rumput laut di Pantai Ujungnge, Bone, Sulawesi Selatan, Selasa (31/10). - ANTARA/Yusran Uccang

Bisnis.com, JAKARTA — Pengusaha rumput laut nasional diminta tetap waspada kendati telah lolos dari isu delisting karagenan atau ekstraksi rumput laut dari daftar bahan pangan organik AS beberapa waktu lalu.

Pasalnya, pada 2023, Indonesia akan melalui tahapan yang sama di mana AS akan kembali meninjau dan membuat keputusan apakah komoditas ini bisa tetap berada dalam daftar bahan pangan organiknya atau justru malah menghapusnya.

Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis menyebutkan mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan mulai dari pembudi daya hingga para pemain di industri hilir tidak lalai.

Dia meminta agar para pembudi daya bisa tetap memperhatikan sejumlah aspek seperti pemanfaatan bibit yang benar-benar natural dan tidak bertentangan dengan syarat organik.

Selain itu, dia juga berharap agar para pembudi daya bisa tetap disiplin mengikuti cara budi daya yang baik dan tidak memanen sebelum waktunya.

Penanganan pascapanen, kata Safari, juga menjadi satu hal yang penting. “Jangan sampai penjemurannya di atas aspal atau lingkungannya tidak bersih,” jelasnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Sebagaimana diketahui, pada awal tahun lalu, isu delisting rumput laut dari bahan pangan organik AS sempat mengemuka.

Akan tetapi, pada April 2018, Daftar Produk Organik AS sudah membolehkan bahwa hasil olahan rumput laut jenis eucheuma dapat diolah menjadi karagenan dan jenis gracilaria diolah menjadi agar-agar dengan syarat akan dievaluasi setiap 5 tahun.

“Jadi, setelah pemerintah AS [melalui United States Department of Agriculture/USDA ] memutuskan bahwa agar-agar dan karagenan tetap berada dalam daftar produk organik pada April 2018, kami harapkan permintaan kembali normal [pada 2019] dan [hasilnya menjadi] lebih baik hingga evaluasi lagi sebelum tahun 2023,” ujar Safari.

Indonesia dan China merupakan dua pemasok utama produk rumput laut ke Negeri Paman Sam. Indonesia mengekspor rumput laut Euchema dan Gracilaria kering sebanyak 50% dari kebutuhan dunia, yang 70% di antaranya dikapalkan ke China.

Berdasarkan data BPS, Indonesia mengekspor 137.859 ton rumput laut dan ganggang lainnya senilai US$113,8 juta ke berbagai negara sepanjang Januari—Oktober 2017.

China menyerap 117.795 ton senilai US$95,2 juta. Negeri Tirai Bambu lantas mengapalkan karagenan ke AS dan Eropa.

Karagenan selama ini merupakan bahan penolong yang digunakan sebagai pengental untuk salad dressing, pengenyal sosis, atau penjernih bir.

Lebih lanjut, Safari juga meminta agar pemerintah bisa turut berperan lebih aktif dalam menyukseskan budi daya dan pemasaran rumput laut dalam negeri, salah satunya adalah terkait dengan akses pembiayaan.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rumput laut, rumput laut, kelautan

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup