Investor Kaya Simpan Lebih Banyak Uang Tunai

Investor kaya di seluruh dunia memegang tingkat kepemilikan uang tunai paling tinggi, yang mengindikasikan bahwa mereka mungkin terlalu waspada dengan kondisi ekonomi saat ini.
Nirmala Aninda | 09 Mei 2019 10:18 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Investor kaya di seluruh dunia memegang tingkat kepemilikan uang tunai paling tinggi, yang mengindikasikan bahwa mereka mungkin terlalu waspada dengan kondisi ekonomi saat ini. Kesimpulan itu tertuang dalam laporan UBS Group AG.

Manajer kekayaan terbesar dunia tersebut menyampaikan bahwa 32 persen dari portofolio kekayaan kaum high-net worth tercatat dalam bentuk tunai.

Di Asia dan Amerika Latin, persentasenya bahkan mencapai 36 persen jika dibandingkan dengan 31 persen di negara seperti Swiss dan 35 persen di negara Eropa lainnya. Sementara itu, portofolio kekayaan dalam bentuk tunai di Amerika Serikat hanya sekitar 23 persen.

“Uang tunai adalah aset yang aman untuk strategi likuiditas tetapi berisiko untuk investasi jangka panjang. Kami melihat tingginya tingkat uang tunai secara global. Ini adalah saat yang tepat bagi investor untuk mempertimbangkan portofolio yang lebih beragam,” kata Paula Polito, direktur strategi klien pada unit manajemen kekayaan global di perbankan Swiss, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (9/5/2019).

Kepemilikan tersebut sesuai dengan bukti reli di ekuitas global, yang menunjukkan investor menyimpan sejumlah uang pada instrumen lain bahkan di tengah penguatan saham pada 2019.

Pada Februari, Goldman Sachs Group Inc. mengatakan dana yang berputar di Asia ditempatkan pada pos yang salah selama reli yang baru berlangsung.

Adapun bulan lalu, ahli strategi John Hancock mengatakan, ada beberapa bukti arus FOMO atau penarikan saham karena investor takut kehilangan keuntungan.

UBS mengatakan, 42 persen dari mereka yang disurvei berencana untuk berinvestasi lebih banyak, dibandingkan dengan 17 persen yang mengharapkan untuk mengurangi pengeluaran.

Isu ekonomi utama yang menjadi sorotan di Amerika Latin adalah inflasi, sementara di Asia isu perang perdagangan global dan di Amerika Serikat menjadi masalah bersama karena adanya efek ombak pada kegiatan perdagangan.

Seorang juru bicara menyampaikan bahwa laporan ini merupakan survei sentimen investor triwulan pertama yang dirilis oleh UBS, sehingga tidak ada angka pembanding dari tahun lalu.

Jajak pendapat ini dilakukan pada 10-28 Maret di 17 negara. Responden lebih dari 3.600 investor kepemilkan aset US$1 juta yang dapat diinvestasikan, dan pemilik bisnis dengan setidaknya total pendapatan tahunan senilai US$250.000 serta memiliki satu atau lebih karyawan.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi

Sumber : Bloomberg

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup