Inaplas Cermati Persiapan Investasi CTP US$10 Miliar

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyatakan tengah memonitor persiapan masuknya investasi asing dalam teknologi coal to prophylene (CTP) dengan nilai lebih dari US$10 miliar hingga 2024.
Andi M. Arief | 07 Mei 2019 15:30 WIB
Pekerja PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) menuangkan biji plastik (polypropylene) ramah lingkungan untuk bahan membuat kantong plastik yang mudah lapuk kembali menjadi tanah dalam tempo 4 bulan, di Cilegon, Banten, Selasa (12/11). Perusahaan petrokimia tersebut memproduksi biji plastik ramah lingkungan dengan kode Asrene SF5008E untuk dipasarkan ke semua kota Besar di Indonesia untuk mengurangi dampak buruk limbah plastik konvensional yang tidak bisa lapuk dalam ratusan tahun. - antara

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyatakan tengah memonitor persiapan masuknya investasi asing dalam teknologi coal to prophylene (CTP) dengan nilai lebih dari US$10 miliar hingga 2024.

Asosiasi menilai teknologi tersebut akan menambah kapasitas produksi polyprophylene (PP) sebesar 400.000 ton per tahun atau menjadi 1,2 juta ton per tahun.

Polyprophylene atau polipropilena adalah polimer termo-plastik yang dibuat oleh industri kimia dan digunakan dalam berbagai aplikasi, di antaranya pengemasan, tekstil (tali, pakaian dalam termal, dan karpet), alat tulis, berbagai tipe wadah terpakaikan ulang serta bagian plastik, perlengkapan labolatorium, pengeras suara, komponen otomotif, dan uang kertas polimer.

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono mengatakan, perakitan teknologi CTP tersebut akan rampung pada 2023. Adapun, ada beberapa negara yang tengah menawarkan teknologi tersebut untuk dirakit di dalam negeri, seperti China, Amerika Serikat, Inggris, dan Afrika Selatan.

"Demand [polyprophylene] itu 1,7 juta ton [tahun ini]. Dalam negeri baru [bisa produksi] sekitar 800.000 ton, jadi 900.000 ton masih impor. Kalau itu dibangun CTP akan tambah 400.000 ton [pada] 2023, tetapi kebutuhan kita akan naik jadi 2,3 juta lebih [pada 2023]," papar Fajar kepada Bisnis, Selasa (7/5/2019).

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
inaplas, industri plastik

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup